Bila Terjadi Perang Besar Antar Negara Kuat, Apa Antisipasi Kita?
Oleh: Girarda, Pemerhati Sosial
Berita itu benar-benar mengejutkan. Amerika Serikat menyerang Venezuela, menculik presidennya beserta istri. Sebuah tindakan sepihak yang terang-terangan mengabaikan kedaulatan negara lain. Bukan cuma itu, hukum internasional pun seperti dilecehkan begitu saja.
Belum reda kejadian itu, muncul lagi kabar lain. Kapal tanker Rusia ditahan AS di laut lepas. Lalu, Presiden Trump memberi sinyal ingin menguasai Greenland wilayah yang jadi bagian Denmark. Serangkaian langkah ini membuat banyak pihak mengernyitkan dahi.
Pertanyaannya, apakah semua tindakan Amerika ini akan selalu mulus? Rasanya, suatu saat mereka akan bertemu lawan yang sepadan. Ketika itu terjadi, bukan tidak mungkin perang besar bakal meletus. Bahkan, bisa melibatkan banyak negara layaknya perang dunia.
Dengan arogansi AS yang kian kentara dan teknologi militernya yang hebat, perang semacam itu pasti akan berlangsung brutal. Semua cara mungkin dikerahkan. Mulai dari perang konvensional, proxy, hingga yang paling mengerikan: biologis, kimia, bahkan nuklir. Dampaknya? Sungguh sulit dibayangkan.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Di sisi hubungan luar negeri, kita harus jeli membaca dinamika geopolitik. Prinsip bebas aktif memang jadi pegangan. Namun begitu, kalau kita terlalu akrab dengan negara yang akhirnya kalah, risikonya besar. Bisa-bisa kita diisolasi, dijauhi oleh komunitas global.
Di sisi lain, ada hal yang lebih mendesak untuk dipikirkan: kesiapan kita sendiri. Perang multidimensi itu bentuknya macam-macam. Sudah siapkah rakyat menghadapi kondisi darurat? Misalnya, saat pasokan makanan terhambat, energi sulit, transportasi dan komunikasi lumpuh.
Belum lagi ancaman wabah penyakit atau kerusuhan sosial dimana saling curiga merajalela. Konflik bisa muncul di antara kita sendiri.
Memang, kita adalah bangsa yang cinta damai. Tapi, mengantisipasi dampak perang besar bukan berarti kita ingin perang. Ini soal kewaspadaan. Persiapan harus dimulai dari sekarang, sebelum semuanya terlambat.
Artikel Terkait
21 Wisatawan Terjebak Banjir Bandang di Sungai Usa Bone Berhasil Dievakuasi Selamat
Kondisi Nadiem Makarim Membaik Usai Operasi, Tetap Siap Baca Pleidoi Pekan Depan
Pemerintah Siapkan Rp4,97 Triliun untuk Subsidi Beras SPHP 2026, Batas Pembelian Konsumen Diperlonggar
Wali Kota Makassar Resmikan Sekretariat Baru IKA FH Unhas, Aktifkan Kembali Organisasi yang Sempat Vakum