Suasana di sejumlah kota Iran pada Minggu dini hari (11/1) kembali memanas. Gelombang protes anti-pemerintah pecah, tak gentar meski jaringan internet nasional sudah dipadamkan lebih dari dua setengah hari. Situasinya mencekam. Kelompok pemantau HAM bahkan mengeluarkan peringatan keras: aparat keamanan disebut menggunakan cara-cara mematikan untuk membungkam suara demonstran.
Pemadaman internet yang berkepanjangan ini sendiri menuai kecaman. Pemantau Netblocks menegaskan, langkah sensor ekstrem itu justru mengancam keselamatan warga. "Langkah sensor ini menghadirkan ancaman langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga Iran di momen krusial bagi masa depan negara," tulis mereka. Blokade yang disebutnya telah "melewati batas 60 jam" itu dinilai membahayakan.
Tapi rupanya, gelombang informasi sulit sepenuhnya dibendung. Meski akses komunikasi terputus, sejumlah video berhasil beredar. Rekaman-rekaman itu menunjukkan kerumunan massa memadati jalan-jalan di Teheran dan Mashhad. Adegannya kacau; beberapa kendaraan terbakar, sementara sejumlah demonstran dengan berani mengibarkan bendera lama Iran yang bergambar singa dan matahari, simbol era monarki sebelum revolusi 1979.
Penggunaan simbol pra-revolusi itu bukan tanpa sebab. Aksi ini diduga mengikuti seruan Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang kini hidup di pengasingan.
"Jangan tinggalkan jalanan. Hati saya bersama kalian. Saya tahu saya akan segera berada di sisi kalian,"
begitu kata Pahlavi, seperti dikutip AFP. Ia mendorong massa untuk menguasai ruang publik dan menghidupkan kembali simbol-simbol nasional lama.
Artikel Terkait
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake
Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah