Iran Gelap, Jalanan Membara: Protes Anti-Rezim Berkobar Meski Internet Dipadamkan

- Minggu, 11 Januari 2026 | 16:30 WIB
Iran Gelap, Jalanan Membara: Protes Anti-Rezim Berkobar Meski Internet Dipadamkan

Suasana di sejumlah kota Iran pada Minggu dini hari (11/1) kembali memanas. Gelombang protes anti-pemerintah pecah, tak gentar meski jaringan internet nasional sudah dipadamkan lebih dari dua setengah hari. Situasinya mencekam. Kelompok pemantau HAM bahkan mengeluarkan peringatan keras: aparat keamanan disebut menggunakan cara-cara mematikan untuk membungkam suara demonstran.

Pemadaman internet yang berkepanjangan ini sendiri menuai kecaman. Pemantau Netblocks menegaskan, langkah sensor ekstrem itu justru mengancam keselamatan warga. "Langkah sensor ini menghadirkan ancaman langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga Iran di momen krusial bagi masa depan negara," tulis mereka. Blokade yang disebutnya telah "melewati batas 60 jam" itu dinilai membahayakan.

Tapi rupanya, gelombang informasi sulit sepenuhnya dibendung. Meski akses komunikasi terputus, sejumlah video berhasil beredar. Rekaman-rekaman itu menunjukkan kerumunan massa memadati jalan-jalan di Teheran dan Mashhad. Adegannya kacau; beberapa kendaraan terbakar, sementara sejumlah demonstran dengan berani mengibarkan bendera lama Iran yang bergambar singa dan matahari, simbol era monarki sebelum revolusi 1979.

Penggunaan simbol pra-revolusi itu bukan tanpa sebab. Aksi ini diduga mengikuti seruan Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang kini hidup di pengasingan.

"Jangan tinggalkan jalanan. Hati saya bersama kalian. Saya tahu saya akan segera berada di sisi kalian,"

begitu kata Pahlavi, seperti dikutip AFP. Ia mendorong massa untuk menguasai ruang publik dan menghidupkan kembali simbol-simbol nasional lama.

Di sisi lain, korban jiwa terus menjadi perhatian. Laporan dari aktivis HAM di AS, yang dirilis AP News sebelumnya, menyebut angka minimal 116 orang tewas, termasuk puluhan aparat. Namun, angka sebenarnya diduga jauh lebih besar. Pemadaman internet yang masif ini jelas mempersulit verifikasi dan menutupi aliran informasi keluar.

Pusat HAM di Iran (CHRI) mengaku mendapat banyak kesaksian langsung. Laporan-laporan kredibel yang mereka terima mengindikasikan korban tewas bisa mencapai ratusan jiwa selama blackout berlangsung. Rumah sakit dikabarkan kewalahan, stok darah menipis sebuah gambaran yang suram.

Namun begitu, pemerintah punya narasi berbeda. Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni dengan tegas membantah klaim-klaim tersebut. Lewat siaran televisi pemerintah, ia menyatakan aksi vandalisme justru menurun.

Ia memperingatkan, "mereka yang mengarahkan protes ke arah perusakan, kekacauan, dan aksi terorisme tidak membiarkan suara rakyat terdengar".

Awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi dan lonjakan harga, protes ini telah berubah wujud. Kini, ia menjelma menjadi tantangan paling serius dalam beberapa tahun terakhir terhadap rezim teokrasi yang berkuasa sejak 1979. Gelombang ketidakpuasan ini, tanpa diragukan lagi, merupakan ujian berat bagi kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei dan masa depan Iran.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar