Masjid yang Dijinakkan: Ketika Islam Disterilkan dari Kritik dan Politik
Oleh Edy Mulyadi
Wartawan Senior/Aktivis Dakwah
Pesan WhatsApp itu masuk Kamis lalu, tanggal 8 Januari 2026. Isinya begini:
“Assalamu'alaikum Ustadz Edy, maaf jika mengganggu waktunya. Perkenalkan saya xxx yang saat ini diamanahi jadi ketua DKM xxx. Afwan Ustadz, mohon maaf sebelumnya. Ini terkait jadwal khatib Jum'at… Kami menghargai semangat Ustadz untuk berdakwah dan menyuarakan kebenaran. Namun untuk saat ini kami sedang menghindari pembahasan isu-isu politik yang sensitif di depan jamaah shalat jum’at yang masih beragam Ustadz. Semoga bisa dipahami Ustadz. Semoga kita tetap bisa bersilaturahmi Ustadz.”
Singkatnya, nama saya dicoret dari jadwal khatib tahun depan. Padahal, masjid itu cuma 300 meter dari rumah saya. Sudah lebih dari seperempat abad saya rutin mengisi khutbah Jumat dan ceramah tarawih di sana. Suasana selalu hidup, jamaah antusias. Tapi begitu pengurus berganti, semuanya berubah.
Redaksinya memang sopan, bahkan religius. Justru di situlah letak persoalannya. Kalimat “menghindari isu-isu politik yang sensitif” terdengar netral, bukan? Padahal, di baliknya ada sikap ideologis yang jelas: memisahkan Islam dari urusan kekuasaan, dari soal keadilan, dari pengaturan hidup umat. Dengan alasan “jamaah beragam”, dakwah dipaksa steril. Tidak boleh ada kritik, apalagi keberpihakan. Inilah, kalau mau jujur, potret nyata sebuah masjid yang sedang dijinakkan.
Lihat saja sekarang. Masjid makin sering dianggap seperti ruang steril. Harus bersih dari kritik, sunyi dari keberpihakan. Harus aman. Aman bagi penguasa, bagi oligarki, bagi segala ketidakadilan. Asal kata “politik” tidak disebut, semuanya dianggap sah sebagai dakwah.
Islam yang Kaaffah
Persoalannya, Islam tak pernah mengenal pemisahan semacam itu. Islam itu kaaffah, komprehensif, paripurna. Ya, ia mengatur shalat dan puasa. Tapi ia juga bicara soal keadilan dan kekuasaan. Islam mengajarkan tauhid, dan dalam napas yang sama, ia menentang tirani.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).
Bahkan, ada satu hadits yang sangat tegas:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
Artikel Terkait
Kembang Api dan Teriakan untuk Pahlavi Warnai Malam Teheran yang Masih Bergejolak
Gemblengan Semi-Militer Siapkan 1.500 Petugas Haji Tangguh
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan