“Spirit Muhammadiyah adalah membangun umat dan bangsa dengan cara-cara yang konstruktif, dialogis, dan mencerahkan,” tandasnya.
Gus Ulil: Itu Bukan Representasi PBNU
Cerita serupa datang dari Nahdlatul Ulama. Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil menegaskan bahwa kelompok yang mengatasnamakan “Angkatan Muda NU” sebagai pelapor Pandji bukan bagian dari struktur resmi PBNU. Bahkan, menurutnya, tidak ada lembaga resmi dengan nama itu di tubuh NU.
“Kalau representasi PBNU jelas tidak,” kata Gus Ulil.
Dia mengakui, hal semacam ini sudah biasa. NU yang besar dan terbuka kerap jadi “nama” yang dipinjam banyak orang untuk gerakan-gerakan spontan. “Sejak dulu kan banyak orang bikin ini itu atas nama NU. Karena NU itu sifatnya terbuka, ya memang siapa saja bisa bikin lembaga atas nama NU,” ujarnya.
Gerakan seperti itu, sambungnya, seringkali bersifat temporer. Bahkan ada yang cuma bertahan beberapa jam. “Itulah uniknya NU,” candanya.
Gus Ulil juga menyelipkan pandangan pribadinya tentang kasus ini. Dia menyoroti pentingnya ruang humor di masyarakat. “Kita butuh banyak ketawa di negeri ini. Kasihan kalau komedian yang bikin banyak orang tertawa harus dilaporkan ke aparat hukum. Humor adalah koentji,” tandas putra menantu KH Mustofa Bisri itu.
Jadi, meski laporan polisi sudah berbunyi, dua ormas Islam terbesar justru mengambil jarak. Mereka menyatakan bahwa para pelapor muda itu bertindak atas nama sendiri, bukan mewakili institusi. Kasus Pandji kini sepenuhnya ada di meja hijau dan di tangan publik yang menyimak.
Artikel Terkait
Kuota Haji Plus Bocor ke Jalur Furoda, Uang Triliunan Menguap
Pramono Anung Usulkan Patung MH Thamrin Dipindah ke Jantung Bundaran
Diplomasi Prabowo Berbuah, Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB
Dari Hatta hingga Gibran: Ironi Kualitas Wakil Presiden di Tengah Gelombang Literasi