Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 07:50 WIB
Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik

Karena itu, ia gampang banget dibaca secara literal. Dan ya, kalau dibaca literal, absurditas memang bakal keliatan kayak niat buruk.

Tapi, kesalahan membaca bukan bukti kesalahan mencipta. Ia cuma menunjukkan bahwa jarak antara karya dan publik belum disiapkan.

Di ruang digital yang suka sama potongan pendek, konteks yang terlepas, dan reaksi cepat karya berlapis hampir selalu kalah sama pembacaan yang paling dangkal. Di situlah absurditas sering dikorbankan atas nama ketertiban.

Menariknya, begitu sebuah karya diseret ke ruang hukum atau moral kolektif, ia berhenti jadi milik penciptanya. Ia berubah jadi simbol.

Pada titik ini, pertanyaan “apakah ini lucu?” jadi nggak relevan lagi. Yang diperdebatkan bukan estetikanya, melainkan hak untuk mengatakannya.

Ironisnya, justru di sinilah absurditasnya terkonfirmasi: karya yang menertawakan ketegangan sosial, malah berakhir memproduksi ketegangan sosial yang nyata. Bukan karena ia berlebihan, tapi karena reaksi terhadapnya nggak proporsional.

Masyarakat cenderung suka kritik yang jelas arahnya, sopan nadanya, dan bisa ditanggapi dengan pernyataan resmi. Kadang ada juga yang protes, "ngapain kritik kalau nggak kasih solusi?" So... what?

Absurditas menolak semua itu. Ia nggak bisa dipatahkan dengan klarifikasi. Nggak bisa ditenangkan dengan imbauan. Karena ia nggak sedang berdebat. Ia sedang menunjukkan absurditas itu sendiri.

Maka, jalan pintasnya ya menyebutnya gimmick. Label ini bekerja kayak penutup telinga: praktis, cepat, dan yang pasti, menenangkan.

Sebelum menutup, saya jadi ingat satu editorial menarik. Intinya, teater komedi di Indonesia sering terjebak antara jadi penghibur atau penyadar. Pilihan itu yang menentukan apakah sebuah karya punya kesadaran, atau cuma jadi penghiburan yang kosong.

Dari situ, kita bisa ambil kesimpulan yang nggak mengikat, tentu saja.

Ya. Dalam arti ia pakai ketidakmasukakalan sebagai bahasa kritik.

Hanya jika kita menuntut semua kritik bicara dengan cara yang sama.

Masalahnya bukan cuma pada karyanya. Tapi pada kesiapan kita menerima bentuk kritik yang tidak familiar.

Absurditas selalu tampak berlebihan di masyarakat yang terbiasa dengan kepastian. Dan humor yang nggak mau cuma menghibur, akan selalu dianggap melampaui batas.

Tapi sejarah seni menunjukkan satu hal sederhana: yang hari ini disebut gimmick, sering kali cuma bahasa yang datang terlalu cepat.

Dan ketidaknyamanan kita? Mungkin itu bukan tanda bahwa karya itu kosong. Melainkan tanda bahwa ia bekerja dengan cara yang nggak sepenuhnya kita kuasai.

Tabik.

Aendra Medita, penulis seni dan pernah kuliah jurusan Teater


Halaman:

Komentar