Menag di Antara Ziarah ke Vatikan dan Fellowship Yahudi: Di Mana Misi Dakwahnya?

- Jumat, 09 Januari 2026 | 14:25 WIB
Menag di Antara Ziarah ke Vatikan dan Fellowship Yahudi: Di Mana Misi Dakwahnya?

Programnya berpusat pada studi akademis dasar tentang Yudaisme. Nasaruddin Umar mengunjungi puluhan sinagog dan lembaga pendidikan Yahudi, berdialog dengan akademisi dan tokoh agama dari berbagai tradisi. Menurut penyelenggara, program ini untuk memperdalam pemahaman lintas agama, mengatasi stereotip, dan membangun "mutual understanding".

Tokoh AJC bahkan menyatakan penghargaan atas pendekatan Menag. Salah satu direktur mereka, Ari Gordon, sempat dijadwalkan jadi narasumber seminar “Relations Among Abrahamic Religious Communities” di Perpustakaan Masjid Istiqlal, 17 Juli 2024.

Tapi, acara itu akhirnya dibatalkan. Poster seminar sempat viral di media sosial dan mendapat banyak kritik. Akhirnya, rencana kedatangan Ari Gordon ke Indonesia pun urung.

Imam Islamic Center New York, Syamsi Ali, pernah mengingatkan negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Katanya, banyak kelompok Yahudi mempromosikan Zionis Israel lewat pendekatan berlabel diskusi lintas agama.

Organisasi seperti AJC memang punya misi mendukung Zionis Israel dan mendorong pengakuan internasional, termasuk dari dunia Islam. Lalu, apakah kursus di AJC mempengaruhi cara berpikir Nasaruddin Umar? Bisa jadi.

Program mereka kerap mendorong penyamaan agama atau pluralisme radikal. Mereka menolak gagasan bahwa Islam satu-satunya agama wahyu. Agenda besar mereka adalah mengajak pemimpin dunia ke Perjanjian Ibrahim (Abraham Accords), bukan kepada agama yang dibawa Nabi Muhammad. Padahal, agama Nabi Ibrahim seperti Nabi Muhammad adalah Islam, bukan Nasrani atau Yahudi.

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi seorang yang hanif lagi Muslim, dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS Ali Imran 67)

Pada akhirnya, seorang Menteri Agama dituntut mampu memadukan peran diplomatik dengan ketegasan misi dakwah. Di dalam negeri maupun di luar. Contohlah Rasjidi dan Wahid Hasyim. Contohlah Nabi Muhammad Saw yang punya misi mengajak non-Muslim masuk Islam. Jangan malah mencontoh agenda Zionis Yahudi yang justru ingin menyamaratakan semua agama.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.’” (QS Fushilat 33). Wallahu alimun hakim.

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.


Halaman:

Komentar