Di hadapan para duta besar Prancis di Istana Elysee, Kamis lalu, Emmanuel Macron tak sungkan menyampaikan pandangannya yang cukup tajam tentang sekutu lama. Sorotan utamanya? Amerika Serikat. Menurut Presiden Prancis itu, AS perlahan-lahan mulai menjauh dari sekutu-sekutunya dan terkesan melepaskan diri dari aturan internasional yang berlaku.
"Amerika Serikat adalah kekuatan mapan, tetapi secara bertahap sedang berpaling dari sebagian sekutunya dan membebaskan diri dari aturan internasional," ujar Macron, seperti dilaporkan AFP.
Pidato tahunannya itu memang penuh kritik. Dunia saat ini, dalam pandangannya, tengah memasuki era persaingan kekuatan besar. Dan situasi itu berisiko membelah tatanan global yang ada. "Kita hidup di dunia kekuatan besar dengan godaan nyata untuk membagi-bagi dunia," tambahnya.
Meski turut menyoroti China yang dinilainya semakin agresif, serta Rusia sebagai "kekuatan yang mendestabilisasi" akibat perang di Ukraina, kritik Macron terhadap Washington terasa paling menonjol. Namun begitu, ia sama sekali tidak menyerukan pemutusan hubungan. Sikap ini muncul tak lama setelah utusan AS hadir dalam pertemuan penting di Paris yang membahas gencatan senjata Rusia-Ukraina.
Di sisi lain, Macron merasa kecaman internasional terhadap AS belakangan ini semakin menjadi. Pemicunya, tindakan pasukan AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya. Banyak pihak menilai langkah itu merusak hukum internasional. Belum reda keributan itu, ketegangan memuncak lagi ketika Presiden Donald Trump menyatakan keinginannya mengambil alih Greenland.
Ya, wilayah otonom Denmark itu tiba-tiba jadi bahan perbincangan. Pernyataan Trump itu langsung memicu kemarahan Denmark dan sekutu Eropa lainnya. Pemerintah Denmark bahkan memberi sinyal keras: serangan terhadap Greenland bisa berarti akhir dari aliansi NATO.
Artikel Terkait
Aceh Siapkan Sabo Dam di Hutan Lindung untuk Tangkal Banjir Bandang
Dua Alasan Krusial yang Bisa Menjerat Yaqut dalam Skandal Kuota Haji
Pascabencana Sumatera, Empat PR Besar Masih Menanti
Kasus Pandji dan Perang Persepsi yang Mengincar Citra Prabowo