Dari pengakuan para tersangka, polisi mulai melihat peran masing-masing. R disebut-sebut sebagai motor penggerak. Dialah yang membawa senapan angin dan mengumpulkan orang untuk tawuran. Sementara I, selain ikut ricuh, juga menyuplai senjata tajam untuk kawan-kawannya.
Lalu bagaimana dengan A? Motifnya lebih personal.
"Tersangka A mengaku ikut dalam aksi tawuran karena dilatarbelakangi rasa dendam," sambung Agus, tanpa merinci lebih jauh sumber dendam tersebut.
Dari penggerebekan, polisi menyita barang bukti. Tidak ada senapan angin yang ditemukan, tapi empat buah celurit berhasil diamankan. Saat ini, pemeriksaan terhadap ketiga tersangka masih terus berlangsung. Polisi juga mendalami kemungkinan ada pelaku lain yang terlibat dalam insiden mengenaskan ini.
Di sisi lain, kondisi Asmi, balita korban tembakan nyasar, masih menjadi perhatian banyak pihak. Kejadian ini kembali menyisakan pertanyaan besar tentang keamanan warga dari aksi kekerasan di jalanan.
Artikel Terkait
Akreditasi Tinggi, Layanan Sepi: Ilusi Mutu Perpustakaan yang Tersandera Angka
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai