Menurut ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi, defisit APBN 2025 masih terbilang terkendali. Angkanya, 2,92 persen dari PDB, tetap berada di bawah batas aman 3 persen yang diatur undang-undang.
"Tingkat defisit tersebut menunjukkan bahwa pemerintah masih menjaga kedisiplinan fiskal,"
ujarnya dalam sebuah pernyataan tertulis yang dirilis Sabtu lalu.
Memang, ada tekanan pada penerimaan negara yang menyebabkan defisit melebar. Namun begitu, Fithra menegaskan hal ini bukan pertanda fundamental ekonomi Indonesia sedang bermasalah. Menurut analisisnya, penyebab utamanya justru lebih ke arah normalisasi harga komoditas di pasar global. Jadi, bukan soal tata kelola fiskal yang buruk.
"Defisit APBN masih dalam koridor yang aman dan terkelola. Ini bukan sinyal krisis fiskal, melainkan respons kebijakan yang wajar di tengah siklus ekonomi saat ini,"
katanya lagi, mencoba menenangkan.
Artikel Terkait
Tiongkok Larang Drama Pendek Romansa CEO yang Pamer Harta
Pemulihan Pascabencana di Sumatera Dipercepat, Fokus pada Pendidikan dan Rumah Ibadah Jelang Ramadan
Pertamina Sediakan 654 Ribu Liter BBM Gratis untuk Logistik Banjir Bandang Sumatera
Pandji Pragiwaksono Segera Dimintai Klarifikasi Polisi Soal Materi Stand Up Comedy