Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 03:00 WIB
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur

Ketika dunia dilanda ketidakpastian, barulah ketahanan sebuah negara benar-benar diuji. Itulah yang terjadi sekarang. Konflik geopolitik, harga pangan global yang fluktuatif, dan perubahan iklim yang ekstrem adalah realitas pahit yang harus dihadapi. Dalam situasi seperti ini, isu pangan pun kembali naik daun, menduduki posisi yang sangat strategis dalam agenda pembangunan nasional.

Indonesia sendiri, saat ini, sedang berada di sebuah momentum penting. Targetnya jelas: swasembada pangan. Di tengah segala gejolak global tadi, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri bukan lagi sekadar wacana, tapi penentu stabilitas. Stabilitas sosial, ekonomi, bahkan politik.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadikan swasembada ini sebagai prioritas utama. Dan ini lebih dari sekadar janji kampanye. Lihat saja, target yang semula direncanakan empat tahun, dipangkas jadi hanya satu tahun. Langkah ini menunjukkan betapa mendesaknya upaya ini. Ketergantungan pada impor, terutama untuk komoditas pokok seperti beras, harus segera dikurangi.

Nah, datanya mulai menunjukkan hasil. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional mengalami tren peningkatan yang cukup signifikan. Dari sekitar 30 juta ton di tahun 2024, diprediksi melonjak jadi 34,71 juta ton pada 2025 berdasarkan KSA Amatan November lalu.

Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah indikator kuat bahwa kapasitas produksi dalam negeri kita sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Tentu, keberhasilan ini ada alasannya. Berbagai program dari Kementerian Pertanian berperan besar.

Di lapangan, ada Program Optimalisasi Lahan atau Oplah yang fokus meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada, lewat perbaikan irigasi dan mekanisasi. Lalu, program Cetak Sawah Rakyat gencar membuka lahan baru di wilayah-wilayah potensial. Ada juga Brigade Pangan, sebuah model kolaborasi yang bertujuan mempercepat proses tanam hingga panen.

Tak ketinggalan, upaya mengatasi tantangan iklim lewat pompanisasi dan penguatan irigasi modern, demi memastikan air tersedia sepanjang tahun. Di sisi regulasi, terjadi pemangkasan besar-besaran terhadap 145 aturan pupuk. Efeknya langsung terasa: distribusi lebih lancar, akses petani lebih mudah, birokrasi dipangkas.


Halaman:

Komentar