Warga Rusia Ditangkap Israel, Diduga Jadi Mata-Mata Iran

- Jumat, 19 Desember 2025 | 17:41 WIB
Warga Rusia Ditangkap Israel, Diduga Jadi Mata-Mata Iran

Seorang warga negara Rusia kini berhadapan dengan dakwaan mata-mata dari otoritas Israel. Intinya, dia dituduh bekerja untuk intelijen Iran. Menurut keterangan resmi, pria itu ditugasi memotret pelabuhan dan berbagai infrastruktur penting di Israel, semua atas arahan langsung dari Teheran.

Polisi dan badan keamanan dalam negeri Israel mengeluarkan pernyataan bersama soal ini. Mereka menyebut, aktivitas spionase itu dibayar menggunakan mata uang digital. Kabar ini dilaporkan oleh Reuters, Jumat lalu.

Ini bukan hal baru, sebenarnya. Konflik terselubung antara Israel dan Iran sudah berlangsung puluhan tahun. Namun situasinya berubah drastis sekitar Juni lalu, ketika perang dingin itu memanas jadi konfrontasi langsung.

Israel diketahui melancarkan serangan ke sejumlah target di dalam wilayah Iran. Beberapa operasi bahkan melibatkan pasukan komando Mossad yang ditempatkan jauh di dalam negara tersebut. Jadi, perang bayangan ini sudah masuk fase yang jauh lebih berisiko.

Di sisi lain, upaya penyusupan Iran juga disebut makin gencar. Menurut sumber Reuters, otoritas Israel baru-baru ini menangkap puluhan warganya sendiri yang diduga menjadi mata-mata Iran. Ini digambarkan sebagai upaya penyusupan terbesar Teheran dalam beberapa dekade terakhir untuk menyusup ke musuh bebuyutannya.

Penangkapan itu seolah jadi bukti nyata. Selama bertahun-tahun, agen-agen intelijen Iran dikabarkan terus berusaha merekrut warga sipil Israel. Targetnya jelas: mengumpulkan informasi intelijen dan bahkan melakukan serangan. Imbalannya? Uang.

Jadi, kasus warga Rusia ini hanyalah satu fragmen dari pertarungan yang jauh lebih besar dan rumit. Sebuah permainan mata-mata yang tak pernah benar-benar berhenti, hanya berubah bentuk dan makin berani.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar