Ayat ini, bagi Miller, adalah sesuatu yang luar biasa. Sebagai ilmuwan, ia paham tentang prinsip uji falsifikasi mencari kesalahan untuk menguji validitas sebuah teori. Nah, Al-Qur'an justru menantang siapa pun untuk mencari kesalahan di dalamnya. Sebuah klaim yang sangat berani.
Keajaiban itu tak berhenti di struktur logisnya. Miller terpana pada ayat yang mengisyaratkan rahasia alam. Dalam Surah Al-Anbiya, disebutkan bahwa langit dan bumi dahulu menyatu, lalu dipisahkan, dan segala yang hidup dijadikan dari air.
Baginya, ini adalah ringkasan sempurna dari teori Big Bang dan temuan biologi modern. Teori yang membuat ilmuwan abad ini meraih Nobel, ternyata sudah disinggung 14 abad silam. Lalu, soal komposisi air dalam sel hidup, sains baru mengetahuinya belakangan.
Pertanyaan besarnya: bagaimana mungkin seorang pria buta huruf di tengah gurun Arab bisa mengetahui semua ini? Bagi Miller, hanya ada satu jawaban logis: wahyu ilahi. Perjalanan pencariannya pun berakhir. Dari pemburu kesalahan, ia berubah menjadi seorang Muslim yang taat dan pendakwah yang bersemangat.
Kini, ia menggunakan logika dan pengetahuannya justru untuk membela kebenaran Al-Qur'an. Seperti firman Allah dalam Surah Al-Baqarah: “Dan jika kamu meragukan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, buatlah satu surat saja yang semisal dengannya…”
Sebuah tantangan yang, bagi Gary Miller, tetap tak terbantahkan hingga hari ini.
Artikel Terkait
Profesor Didin Soroti Tantangan Ideologis Umat Islam di Tengah Arus Sekularisasi
Rocky Gerung Soroti Isu Kemanusiaan dan Lingkungan dalam Pidato Megawati di Rakernas PDIP
Timothy Ronald dan Akademi Crypto Dilaporkan Polisi, Diduga Tipu Investor
Menkes Minta Rumah Rusak Tenaga Kesehatan Aceh Segera Diperbaiki