Dunia maya lagi-lagi jadi ladang berbahaya. Kali ini, Densus 88 Antiteror Polri mengungkap sebuah grup chat internasional bernama "The True Crime Community" yang diam-diam menyebarkan racun ideologi ekstrem. Sasaran mereka mengerikan: anak-anak dan remaja. Tak tanggung-tanggung, sekitar 70 anak di Indonesia sudah terpapar, baik lewat grup utama itu maupun puluhan jaringan lainnya yang menjamur.
Menurut Juru Bicara Densus 88, Mayndra Eka Wardhana, komunitas ini kini jadi fenomena tersendiri di media sosial. Propaganda mereka berisi paham-paham berbahaya seperti white supremacy dan neo-nazi.
Mayndra menjelaskan, komunitas ini unik. Dia tak dibentuk oleh organisasi tertentu, tapi tumbuh secara sporadis, mengikuti arus teknologi.
Dampaknya ternyata masif dan global. Mayndra membeberkan sederet contoh kekerasan yang terjadi sepanjang 2025, yang didorong oleh paham dari komunitas semacam ini.
Dia menyebutkan Henderson Solomon (17 tahun) yang menembak di Antioch High School, AS, pada 22 Januari 2025. Motifnya, membenci kulit hitamnya sendiri setelah terpapar White Supremacist di media sosial.
Lalu ada Robin M. Westman (23 tahun) yang menembak jemaat gereja Katolik di AS bulan Agustus. Pria ini disebut terobsesi membunuh anak-anak.
Kasus lain di Evergreen High School, Colorado, AS, dilakukan Desmond Holley (16 tahun) pada September. Pelaku terpapar paham Antisemitisme.
Artikel Terkait
Dua Musuh Abadi Umat Islam: Dari Sistem Hingga Bisikan Halus
KPK Periksa Mantan Kajari Bekasi Terkait Kasus Ijon Proyek Ade Kuswara
Kemensos Siapkan Pendamping Bersertifikat untuk Program Makanan Lansia dan Disabilitas
Rudal Rusia Hantam Lviv, Ancaman Hipersonik Mengintai Perbatasan NATO