Yang terbaru bahkan terjadi di Rusia.
Inilah yang mengerikan: mereka saling menginspirasi secara global. Buktinya, pada gagang senjata pelaku penusukan di Moscow itu, tertulis "Jakarta Bombing 2025".
Efeknya pun merambat ke Indonesia. Mayndra menyebut ada anak di Jepara yang ingin jadi "pelopor" kekerasan di sekolah dan meng-upload aksinya. Berkat kerja sama Densus 88 dan Polda Jateng, rencana itu digagalkan.
Setelah insiden SMAN 72 Jakarta, ancaman serupa muncul di Kalimantan Barat pada 8 Desember 2025, dan di Jawa Timur pada 17 Desember 2025. Untungnya, keduanya berhasil dicegah.
Menyikapi hal ini, aparat tak tinggal diam. Pada 22 Desember 2025, Mabes Polri bersama kementerian dan lembaga terkait mulai melakukan intervensi terhadap 70 anak yang terpapar tersebut untuk dibina dan direhabilitasi.
Kasus-kasus ini menunjukkan sebuah pola yang mengkhawatirkan. Ruang digital yang tanpa batas ternyata bisa menjadi ruang gelap yang menghubungkan pikiran-pikiran rentan, dari belahan dunia mana pun, menuju pada satu titik: kekerasan.
Artikel Terkait
Dua Musuh Abadi Umat Islam: Dari Sistem Hingga Bisikan Halus
KPK Periksa Mantan Kajari Bekasi Terkait Kasus Ijon Proyek Ade Kuswara
Kemensos Siapkan Pendamping Bersertifikat untuk Program Makanan Lansia dan Disabilitas
Rudal Rusia Hantam Lviv, Ancaman Hipersonik Mengintai Perbatasan NATO