Iran Bergolak: Dari Protes Ekonomi ke Tuduhan Konspirasi Asing

- Rabu, 07 Januari 2026 | 07:40 WIB
Iran Bergolak: Dari Protes Ekonomi ke Tuduhan Konspirasi Asing

Menurutnya, pemerintah Iran sebenarnya sudah berusaha berdialog. Awalnya, unjuk rasa itu murni penyampaian aspirasi. Tapi yang terjadi kemudian berbeda. Yang tersisa sekarang adalah barisan pemberontak yang menyusup. Mereka ini agen asing banyak yang sudah ditangkap dan mengaku terkait Mossad.

Pihak berwenang Iran sudah bersikap tegas. Lembaga peradilan menyatakan para perusuh akan "dibersihkan". Sampai saat ini, korban jiwa dari kedua belah pihak sipil dan aparat diperkirakan sekitar 30 orang.

Zulkifli meyakini, demo kali ini benar-benar dimanfaatkan. AS dan Israel disebut menyusupkan agen mereka lewat perbatasan Irak, di mana ada pangkalan militer AS yang aktif. Penyusupannya dilakukan secara profesional oleh orang-orang terlatih.

"Dukungan resmi yang diberikan oleh AS dan Israel kepada para penyusup membuat pemerintah Iran mengambil tindakan sangat tegas. Statement dari pemerintah sudah clear: siapapun yang melakukan kerusuhan akan dihadapi dengan peluru," tegasnya.

Lanskap protes ini dinilai sudah melenceng jauh. Ada operasi terencana, terstruktur, dan didanai dari luar. Ini bisa jadi salah satu demonstrasi paling berbahaya yang dialami Iran sejak revolusi.

Namun, ada agenda yang lebih besar. Bukan cuma soal penggulingan Ali Khamenei. AS disebut sedang menjalankan peta besar di Asia Barat. Setelah Venezuela, Iran adalah target berikutnya. Alasannya strategis: melemahkan Iran berarti memutus salah satu nadi ekonomi dan pengaruh China-Rusia di kawasan, terutama di Selat Hormuz yang vital.

Tapi, Iran bukan Venezuela. Kekuatan militernya mumpuni, didukung ideologi yang kokoh dari dalam. Daya tahannya sudah teruji, baik langsung maupun lewat proxy-proxy di medan perang.

Menggulingkan rezim di Tehran bukan hal mustahil jika AS nekat. Tapi konsekuensinya bakal mahal sekali. Harga geopolitiknya sangat besar, baik secara regional maupun global. Dan itu adalah harga yang, untuk saat ini, mungkin belum sanggup mereka pikul.

(")


Halaman:

Komentar