Kawasan Selumit Pantai di Tarakan dulu bukan tempat yang ramah. Julukannya seram: mal narkoba. Transaksi gelap barang haram berlangsung besar-besaran di sana, bahkan melibatkan anak-anak dan ibu rumah tangga sebagai kurir. Keseharian warga kerap diwarnai kasus peredaran narkotika. Tapi sejak Desember tahun lalu, suasana mulai berubah. Perubahan itu digerakkan oleh Iptu Juani Aing, seorang Kaurbinops Narkoba Polres Tarakan yang prihatin.
Dia tak mau anak-anak di daerah pesisir itu terus terjerumus. "Saya sebagai perempuan di situ prihatin," ujar Juani kepada detikcom, Kamis (20/11/2025).
"Wilayah itu selain kumuh dan padat penduduk, memang rawan sekali terjadi transaksi narkoba."
Niat baiknya ternyata tak langsung diterima. Masyarakat Selumit Pantai terkenal tertutup pada orang asing, apalagi polisi. Anak-anak kecil pun lari ketakutan melihat seragam. "Mereka kalau ngeliat orang asing kan mereka ngelihatnya kayak sinis gitu," kenang Juani. Kegiatan yang diadakan pun awalnya diabaikan.
Namun begitu, Juani dan puluhan Polwan Tarakan lainnya pantang menyerah. Mereka memilih pendekatan lain: turun langsung membersihkan lingkungan. Rumah-rumah panggung di atas sungai yang dipenuhi sampah plastik pelan-pelan dibersihkan. Aksi nyata itu akhirnya membuka hati warga. Sedikit demi sedikit, mereka mulai membuka diri dan ikut serta.
Yang paling penting, rasa takut anak-anak pada polisi pun hilang. "Berjalannya waktu anak-anak yang ada di situ akhirnya mereka dekat dengan kita," kata Juani. Dari kedekatan itulah, masalah sebenarnya terungkap. Banyak dari mereka putus sekolah, entah karena biaya atau ikut orang tua mengembara. Mereka berkeliaran tanpa pengawasan, rentan dimanfaatkan.
Kekhawatiran Juani terbukti. Beberapa anak ternyata sudah dipakai sebagai kurir atau mata-mata oleh para pengedar. "Miris bagi kami mendengar hal itu," ucapnya. Interaksi pun semakin intens. Juani dan kawan-kawan mengajak anak-anak itu untuk rajin mengaji di Masjid Al Ma'ruf. Antusiasme mereka tinggi, sekitar 80 anak rutin datang.
Tapi masalah lain muncul. Banyak yang tak punya seragam mengaji, sehingga malu dan enggan datang. Juani pun memutar otak. Setelah berkomunikasi dengan Baznas Kota Tarakan, bantuan pun mengalir. Kini, anak-anak bisa mengaji tanpa terbebani biaya.
Di sisi lain, dukungan juga datang dari pimpinan. Bahkan, sebuah Warung Kamtibmas dibangun di sana sebagai pusat kegiatan. Tempat itu jadi ruang untuk pelatihan menari, menyanyi, dan beragam kreasi seni lainnya. Hasilnya? Perubahan nyata.
"Alhamdulillah sekarang untuk kegiatan narkobanya sendiri lambat laun berkurang," tutur Juani dengan lega. Dia memperkirakan penurunannya mencapai 80%. Kawasan yang dulu rawan, kini jauh lebih kondusif.
Atas seluruh dedikasinya, Polda Kalimantan Utara mengusulkan Iptu Juani Aing untuk penghargaan Hoegeng Corner 2025. Sebuah pengakuan untuk upaya keras mengubah sebuah kampung dari dalam, dengan cara merangkul, bukan menghakimi.
"Mudah-mudahan kegiatan yang sudah kita lakukan kemarin itu bisa konsisten kita lakukan beriringan dengan tugas pokok di kantor," imbuhnya penuh harap.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi