Skor Bahasa Inggris 24,93, Alarm untuk Ambisi 2027

- Selasa, 06 Januari 2026 | 17:06 WIB
Skor Bahasa Inggris 24,93, Alarm untuk Ambisi 2027

Rencana pemerintah memasukkan Bahasa Inggris sebagai pelajaran wajib di SD mulai 2027 memang ambisius. Tujuannya jelas: menyiapkan "Generasi Emas" yang siap bersaing global. Tapi, semangat ini seperti ditampar oleh data terbaru. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang baru dirilis Kemendikdasmen justru membeberkan kondisi yang cukup memprihatinkan.

Bayangkan, skor rata-rata nasional untuk Bahasa Indonesia cuma 55,38. Matematika lebih parah lagi, di angka 36,10. Yang paling mengkhawatirkan, skor Bahasa Inggris nyaris tak sampai seperempat dari nilai sempurna, mentok di 24,93. Angka-angka ini bukan cuma deretan statistik. Ini adalah alarm, tanda bahaya yang nyaring.

Kita seperti terobsesi membangun menara pencakar langit kemahiran berbahasa asing sementara fondasi dasarnya, yaitu kemampuan berpikir dan berbahasa Indonesia, masih bolong-bolong dan rapuh.

Bahasa Sebagai Arsitektur Berpikir

Di lapangan, banyak guru mengeluhkan fenomena "kekosongan ide" pada siswa. Masalahnya sering bukan pada kosakata Inggris yang terbatas. Tapi lebih mendasar: mereka bingung mau menyampaikan apa. Ini persoalan logika, bukan sekadar bahasa.

Seperti pernah diungkapkan oleh Prof. Bagus Muljadi, bahasa sejatinya adalah arsitektur berpikir. Beliau merujuk pada konsep Trivium dalam Liberal Arts: Grammar, Logic, dan Rhetoric.

Nah, Grammar di sini bukan cuma soal hafalan tenses. Itu adalah struktur logika untuk membangun realitas. Kalau seorang siswa kesulitan menyusun argumen yang runtut atau cerita yang koheren dalam bahasa ibunya, mustahil kita berharap dia bisa melakukannya dalam bahasa asing. Skor Bahasa Indonesia yang cuma 55,38 itu buktinya. Kemampuan literasi dan nalar dasar mereka, dalam bahasa sendiri saja, masih jauh dari kata baik.

Terjebak dalam Beban Ganda

Persoalannya, pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah kerap terjebak jadi "ilmu teori". Siswa sibuk menghafal jenis-jenis kata dan istilah-istilah linguistik yang njlimet, tapi jarang sekali dilatih untuk mempraktikkan retorika seni menyampaikan pikiran dengan efektif. Akibatnya bisa ditebak.

Saat dapat tugas menulis atau berbicara dalam Bahasa Inggris, siswa mengalami beban ganda. Mereka tak cuma berjuang dengan tata bahasa asing, tapi juga kebingungan karena struktur logika di kepalanya kosong. Dua masalah sekaligus harus dihadapi.

Nah, agar program 2027 nanti tidak jadi sekadar wacana atau perubahan kosmetik, fokusnya harus diperlebar. Pemerintah perlu melakukan revolusi dalam cara mengajarkan Bahasa Indonesia. Program pelatihan guru Bahasa Inggris (PKGBI) yang sudah berjalan bisa jadi contoh. Kenapa tidak ada "PKG-Bahasa Indonesia" yang serius? Guru-guru Bahasa Indonesia pun perlu dibekali kemampuan untuk mengajarkan bahasa sebagai alat pikir, bukan sekadar mata pelajaran hafalan.

Skor Matematika yang cuma 36,10 itu semakin menguatkan dugaan bahwa daya nalar siswa kita memang dalam kondisi darurat. Bahasa dan logika itu ibarat dua sisi koin yang sama. Mustahil dipisahkan.

Jadi, menyongsong 2027, ada ironi yang harus kita sadari. Keberhasilan pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia justru sangat bergantung pada seberapa kuat kita membenahi pengajaran Bahasa Indonesia. Sebelum bisa berbicara kepada dunia, anak-anak kita harus lebih dulu menemukan suara dan logikanya sendiri, di rumahnya sendiri.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar