Terjebak dalam Beban Ganda
Persoalannya, pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah kerap terjebak jadi "ilmu teori". Siswa sibuk menghafal jenis-jenis kata dan istilah-istilah linguistik yang njlimet, tapi jarang sekali dilatih untuk mempraktikkan retorika seni menyampaikan pikiran dengan efektif. Akibatnya bisa ditebak.
Saat dapat tugas menulis atau berbicara dalam Bahasa Inggris, siswa mengalami beban ganda. Mereka tak cuma berjuang dengan tata bahasa asing, tapi juga kebingungan karena struktur logika di kepalanya kosong. Dua masalah sekaligus harus dihadapi.
Nah, agar program 2027 nanti tidak jadi sekadar wacana atau perubahan kosmetik, fokusnya harus diperlebar. Pemerintah perlu melakukan revolusi dalam cara mengajarkan Bahasa Indonesia. Program pelatihan guru Bahasa Inggris (PKGBI) yang sudah berjalan bisa jadi contoh. Kenapa tidak ada "PKG-Bahasa Indonesia" yang serius? Guru-guru Bahasa Indonesia pun perlu dibekali kemampuan untuk mengajarkan bahasa sebagai alat pikir, bukan sekadar mata pelajaran hafalan.
Skor Matematika yang cuma 36,10 itu semakin menguatkan dugaan bahwa daya nalar siswa kita memang dalam kondisi darurat. Bahasa dan logika itu ibarat dua sisi koin yang sama. Mustahil dipisahkan.
Jadi, menyongsong 2027, ada ironi yang harus kita sadari. Keberhasilan pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia justru sangat bergantung pada seberapa kuat kita membenahi pengajaran Bahasa Indonesia. Sebelum bisa berbicara kepada dunia, anak-anak kita harus lebih dulu menemukan suara dan logikanya sendiri, di rumahnya sendiri.
Artikel Terkait
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini
Bos Kejahatan Cyber Chen Zhi Diekstradisi dari Kamboja, Aset Triliunan Rupiah Disita