Komunikasi Politik Pemerintah Dinilai Tak Empatik, Demokrasi Indonesia Disebut Krisis Kepercayaan
Jakarta Tahun 2026 diprediksi bakal penuh tantangan berat. Begitulah kesimpulan yang mengemuka dalam acara Refleksi Kebangsaan yang digelar DPP Persatuan Alumni GMNI, Senin lalu. Meski stabilitas makroekonomi masih bertahan, mereka melihat ancaman mengintai di banyak sektor. Dari ekonomi, hukum, sampai fondasi demokrasi kita.
Acara yang digelar di Jakarta itu memang menyoroti banyak hal. Salah satunya soal pertumbuhan ekonomi yang, meski diklaim sekitar 5 persen sepanjang 2025, dinilai punya masalah mendasar.
“Pertumbuhan itu belum mencerminkan keadilan sosial,” begitu bunyi keterangan resmi PA GMNI yang diterima media.
Menurut mereka, pertumbuhan masih bertumpu pada sektor pertambangan dan perkebunan. Pola seperti ini, alih-alih mempersempit, justru berpotensi memperlebar jurang kesenjangan yang sudah ada.
Lalu, persoalan hukum juga tak kalah pelik. Mereka menyoroti lemahnya moralitas dalam penegakan hukum. Ada satu hal yang cukup mencolok: maraknya pengujian undang-undang ke Mahkamah Konstitusi, terutama yang terkait UU Pemilu.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tiba di Abu Dhabi, Akan Temui Presiden UEA untuk Perkuat Kemitraan Strategis
FIFA Yakin Piala Dunia 2026 Aman Meski Gelombang Kekerasan Guncang Meksiko
Kemendagri Dorong Analis Kebijakan Papua Jadi Think Tank Berbasis Data
Imsak di Banjarmasin Pukul 05.04 WITA, Subuh 05.14 WITA