Hanya Dua Menit di Dunia, Tapi Penentu Nasib Abadi

- Selasa, 06 Januari 2026 | 07:50 WIB
Hanya Dua Menit di Dunia, Tapi Penentu Nasib Abadi

Cerdas atau Lemah? Ini Cirinya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan definisi yang sangat tajam.

«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ»

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab/menghitung dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti jiwanya (dengan) hawa nafsunya dan (hanya) berangan-angan kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Jadi, kecerdasan sejati itu diukur dari sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk masa depan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan setelah mati. Bukan dari gelar atau harta. Orang yang cuma mikirin kesenangan sesaat, lalu berharap masuk surga dengan angan-angan, itu termasuk golongan orang yang lemah. Tertipu oleh dunianya sendiri.

Bayangkan, Siksa Neraka yang Paling Ringan

Kita sering dengar tentang neraka, tapi mungkin belum benar-benar membayangkan siksanya. Rasulullah bersabda tentang siksaan yang paling ringan sekalipun.

«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوْضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ»

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang diletakkan di bawah telapak kakinya dua bara api, seketika otaknya mendidih karenanya.” (HR. Bukhari)

Itu yang paling ringan. Cuma dua bara api di bawah kaki, langsung bikin otak mendidih. Kita bisa sakit kepala karena cuaca panas saja sudah mengeluh. Apalagi ini. Kalau yang ringan saja sudah seperti itu, bagaimana dengan siksa tingkat berikutnya? Tidak ada manusia yang sanggup menahannya, sedetik pun.

Penyesalan di Atas Shirath

Nanti, di hari akhir, ada proses menyeberangi shirath, jembatan di atas neraka. Kecepatan setiap orang berbeda-beda. Ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang merangkak pelan-pelan. Nasibnya pun berbeda. (HR. Muslim).

Sebagian orang beriman, karena amalnya baik, bisa langsung melintas masuk surga. Tapi, ada juga yang harus bersusah payah, merangkak, hampir jatuh. Di situlah penyesalan itu datang. "Kenapa dulu di dunia aku malas beramal? Kenapa tidak lebih sungguh-sungguh?"

Bagi yang dosanya lebih berat, mereka harus merasakan neraka dulu sebelum akhirnya diselamatkan oleh rahmat Allah. Penyesalan mereka, tentu saja, jauh lebih dalam dan pedih. Mereka merasakan langsung siksaan yang tak terbayangkan.

Memaknai Dua Menit yang Menentukan

Jadi, kalau hidup dunia ini nanti terasa cuma seperti dua menit, maka dua menit inilah yang menentukan segalanya. Cuma dua menit untuk memilih jalan abadi. Mengandalkan shalat wajib saja ternyata belum cukup, apalagi jika dilakukan asal-asalan.

Rasulullah dan para sahabat sudah memberikan contoh nyata. Mereka memaksimalkan setiap detik untuk ibadah, sedekah, dakwah, dan amal shaleh lainnya. Mereka paham betul nilai waktu.

Maka, sudah saatnya kita menghisab diri. Bertanya pada hati sendiri:

Dari sisa umur yang ada, berapa persen yang benar-benar untuk akhirat?

Apakah waktu kita akan terus habis untuk hal-hal yang sia-sia, atau kita alihkan untuk bekal yang tak pernah habis?

Hidup ini singkat. Tapi, di balik kesingkatannya tersimpan keputusan abadi. Jangan sampai kita menyesal ketika "dua menit" itu sudah habis dan segalanya tak bisa diulang lagi. Wallahu ‘Alam bis Shawab.

Muhammad Fitrianto, Pendidik di SMAIT Ar Rahman Banjarbaru.


Halaman:

Komentar