Serbuan Lalat di Kintamani: Dilema Pupuk Mentah dan Pariwisata Bali

- Senin, 05 Januari 2026 | 20:06 WIB
Serbuan Lalat di Kintamani: Dilema Pupuk Mentah dan Pariwisata Bali

Keluhan yang Sudah Lama Mengendap

Persoalan ini bukan hal baru bagi pelaku pariwisata. Sejak 2012, Pemkab Bangli sudah menerima keluhan. Wisatawan sering merasa terganggu dengan kehadiran lalat di spot-spot wisata.

"Keluhan paling banyak memang datang dari pelaku pariwisata. Tapi di wilayah pertanian seperti Kintamani, populasi lalat memang lebih tinggi dibanding daerah nonpertanian," tutur Sarma.

Berbagai cara dicoba agar sektor pariwisata dan pertanian bisa berjalan beriringan. Salah satu imbauan terbaru adalah menutup pupuk kandang mentah dengan terpal sebelum ditebar. Sayangnya, hasilnya belum terlihat signifikan.

"Ini memang gangguan kenyamanan, terutama bagi pariwisata. Tapi mau tidak mau, pertanian dan pariwisata harus tetap berjalan bersama," tegasnya.

Pengalaman Langsung Wisatawan

Tapi, tidak semua orang merasakan gangguan yang sama. Ela Dik Roth (32), wisatawan asal Makassar, punya pengalaman berbeda. Saat berkunjung ke Desa Batur Tengah dan Songan pada 20 Desember 2025 lalu, ia mengaku tidak terlalu terganggu.

"Saya di Kintamani dari pukul 07.00 sampai 17.00 WITA. Saat makan memang ada lalat, tapi masih wajar dan tidak berlebihan," katanya.

Imbauan untuk Pengusaha Pariwisata

Fenomena ini bahkan sempat menarik perhatian pemerintah pusat. Pada 2024, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Uno, mengapresiasi langkah petani menggunakan pupuk nonkimia. Ia melihatnya sebagai bagian dari pariwisata hijau.

Namun, ia juga tak menampik dampak sampingannya. Sandiaga lalu mengingatkan para pelaku usaha untuk memperketat penerapan standar CHSE (Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan).

"Penggunaan pupuk dari kotoran ayam ini efektif dan mendukung ekonomi hijau, tapi ada dampak berupa perkembangbiakan lalat yang masif," kata Sandiaga Uno, Kamis (11/1/2024).

"Saya kembali mengingatkan agar standar SNI CHSE diterapkan secara konsisten," tambahnya.


Halaman:

Komentar