Di Balik Gelap, Syifa dan Suami Nyalakan Pelita Quran Braille di Cibinong

- Senin, 05 Januari 2026 | 19:30 WIB
Di Balik Gelap, Syifa dan Suami Nyalakan Pelita Quran Braille di Cibinong

Contoh kecil? Saat turun dari angkot atau ojek online, seringkali tak ada yang peduli. "Kita harus muter-muter dulu sampe nabrak-nabrak orang, itu yang menurut kita kurang," keluhnya, mengingat masa-masa bolak-balik ke rumah sakit.

Fasilitas publik juga masih jadi soal. Guiding block di trotoar kerap dipakai tempat jualan. Ketersediaan buku braille juga masih terbatas. Tapi bagi Syifa, dukungan terpenting justru datang dari keluarga. "Banyak loh, orang tunanetra yang justru diabaikan keluarganya sendiri," pesannya.

Sebaran Tunanetra di Indonesia: Data dan Tantangannya

Berdasarkan Sensus Penduduk 2020 yang dirilis BPS, disabilitas penglihatan berat (disebut tipe 3) tersebar di seluruh Indonesia. Papua jadi provinsi dengan persentase tertinggi, yaitu 0,67%. Sementara Banten mencatat angka terendah, 0,25%.

Di sisi lain, data Kementerian Pendidikan menunjukkan ada 4.297 peserta didik tunanetra di SLB se-Indonesia, tersebar di 2.366 sekolah. Jawa Timur memimpin dengan 398 SLB dan 810 peserta didik tunanetra.

Tapi ada satu fakta yang menyedihkan: Papua Pegunungan. Di sana, tak ada satupun SLB, baik negeri maupun swasta, pada tahun ajaran 2024/2025. Jumlah peserta didik tunanetranya pun nol. Ini jelas jadi pekerjaan rumah yang serius. Soalnya, pendidikan adalah hak semua anak bangsa, tanpa terkecuali.

Layanan Pendidikan yang Tepat adalah Kunci

Marja, dosen Kajian Tunanetra di UNJ, bilang penyebab ketunanetraan itu beragam. Bisa karena sakit, kecelakaan, atau faktor keturunan. Tapi dalam dunia pendidikan, kata dia, yang ditekankan bukan penyebabnya.

"Layanan pendidikan yang tepat, itu yang penting," tegas Marja saat dihubungi.

Menurutnya, akses pendidikan di Indonesia sudah lebih baik dengan hadirnya SLB dan sekolah inklusif. Untuk anak tunanetra, belajar braille di tingkat awal seperti TK dan SD itu wajib. Mereka mulai dari Pre-Braille untuk melatih kepekaan raba, lalu berlanjut ke huruf braille.

Ketersediaan bukunya pun menurut Marja sudah cukup, didukung pemerintah. Ada buku cetak braille, ada juga versi audionya.

Tapi ada pergeseran yang menarik. Di tingkat mahasiswa, braille mulai jarang dipakai. "Mereka sekarang lebih banyak pakai teknologi," ujar Marja yang mengajar sejak 1999 itu. Aplikasi pembaca layar di ponsel dan laptop, plus e-book, jadi pilihan karena lebih praktis menyesuaikan tuntutan zaman.

Memang sih, teknologi memudahkan. Tapi, tak bisa dipungkiri, braille punya tempatnya sendiri. Ia bukan sekadar huruf, tapi jembatan awal menuju kemandirian. Seperti yang diperjuangkan Syifa di Cibinong. Dalam gelap, dia dan suami justru menyalakan pelita untuk orang-orang yang senasib.

Reporter: Safina Azzahra Rona Imani


Halaman:

Komentar