Paguyuban Perantau: Saat Silaturahmi Berubah Jadi Ajang Pamer

- Jumat, 09 Januari 2026 | 00:06 WIB
Paguyuban Perantau: Saat Silaturahmi Berubah Jadi Ajang Pamer

Merantau ke kota, impiannya sederhana: hidup lebih baik. Tapi di tengah hiruk-pikuk urban, mencari kehidupan yang sesungguhnya ternyata butuh strategi. Salah satu kunci utamanya? Membangun jaringan. Ya, networking di perantauan seringkali jadi jalan tercepat untuk berkembang, jauh lebih efisien daripada berjuang sendirian.

Memperluas pergaulan memang cara klasik untuk membuka rezeki. Yang menarik, pertemanan di rantau punya dinamika sendiri. Berkenalan biasa saja, eh lama-lama jadi akrab luar biasa. Bahkan bisa terasa seperti keluarga. Padahal, dulu di kampung halaman, keakraban sedekat ini jarang terjadi meski satu suku sekalipun.

Di sinilah paradoksnya. Saat bertemu sesama perantau dari daerah atau marga yang sama, ikatan yang terjalin bisa sangat kuat. Rasanya seperti menemukan saudara kandung. Rindu kampung pun sedikit terobati dengan ramah-tamah bersama orang sekampung. Serasa pulang, walau sejenak.

Nah, ikatan seperti ini biasanya coba dikukuhkan lewat paguyuban atau persatuan kedaerahan. Tujuannya mulia: silaturahmi. Paguyuban, yang berasal dari kata "guyub" yang artinya rukun, pada dasarnya adalah perkumpulan yang diikat hubungan batin yang alamiah. Ia tumbuh dari mulut ke mulut, makin ramai, dan sering membentuk semacam "perkampungan" kecil di kota besar. Di awal-awal, semangat kebersamaan itu biasanya menggebu-gebu.

Tapi, menurut pengalaman, di situlah tantangannya mulai. Banyak paguyuban yang akhirnya surut atau bahkan bubar. Penyebabnya? Seringkali soal ego pribadi, arogansi, dan yang paling kentara sikap saling pamer.

Faktanya, kondisi ekonomi anggota dalam satu paguyuban jarang yang setara. Ada yang kaya, sedang, dan pas-pasan. Bagi yang sudah sukses, perkumpulan seperti ini bisa jadi wadah untuk memamerkan hasil jerih payahnya. Di sisi lain, bagi yang ekonominya biasa saja, situasi ini bikin minder. Motif pertemuan jadi bergeser. Bukan lagi soal silaturahim, tapi lebih mirip audisi kekayaan. Tentu saja, keadaan yang tidak setara seperti ini menciptakan ketidaknyamanan.


Halaman:

Komentar