Paguyuban Perantau: Saat Silaturahmi Berubah Jadi Ajang Pamer

- Jumat, 09 Januari 2026 | 00:06 WIB
Paguyuban Perantau: Saat Silaturahmi Berubah Jadi Ajang Pamer

Belum lagi urusan administrasi yang memberatkan. Iuran rutin, tagihan untuk acara, hingga denda bagi yang jarang hadir, sering jadi masalah. Hal ini sebenarnya sudah jadi rahasia umum. Dompet para perantau yang sudah tipis dipaksa mengeluarkan isinya lagi. Sementara, di dapur rumah, belanja bulanan bisa ikut tersedot untuk membayar "kewajiban" sosial ini.

Bagi masyarakat yang kurang mampu, beban ini terasa sangat berat. Seperti yang diungkapkan Rob Nixon, ini ibarat 'kekerasan lambat' sebuah tekanan yang terjadi bertahap, tidak spektakuler, tapi dampaknya sama-sama mematikan.

Idealnya, datang ke acara paguyuban harusnya menyenangkan, bukan membebani. Anggota seharusnya bersemangat menanti jadwal kumpul-kumpul, bukan malah mencari-cari alasan untuk absen. Sering kan, kita dapat pesan izin tidak hadir di WhatsApp, padahal sebenarnya yang mengganjal adalah perasaan tidak nyaman.

Dampaknya juga sampai ke tuan rumah. Seharusnya, beban mereka ringan ketika tamu berdatangan. Nyatanya, justru jadi susah karena yang datang sedikit. Makanan yang sudah disiapkan banyak-banyak akhirnya terbuang. Dari sajian untuk manusia, berubah jadi makanan ayam atau hewan lainnya. Sungguh disayangkan.

Lantas, paguyuban seperti apa yang bisa bertahan? Yang mampu mengayomi semua anggotanya dengan konsisten. Yang bisa menjaga status sosial dengan arif. Status sosial memang ada, dan itu wajar. Bahkan, Patrick Schenk, Muller, dan Keiser (2024) menyebut status sosial sebagai bentuk prestise dan kehormatan.

Namun begitu, kemaslahatan bersama harus tetap jadi tujuan utama. Bukan malah jadi ajang pamer. Status sosial jangan sampai jadi benalu yang membuat anggota mundur satu per satu. Pada akhirnya, paguyuban yang sehat adalah yang membuat setiap perantau merasa punya rumah kedua, bukan tambahan beban di perantauan.


Halaman:

Komentar