Perkembangan teknologi memang luar biasa, tapi di balik semua kecanggihan itu, ada ancaman yang ikut merayap. Era kecerdasan buatan (AI) ternyata membawa serta gelombang kejahatan cyber yang makin sulit dihindari.
Yang paling mengkhawatirkan? Maraknya kasus pelecehan seksual digital lewat deepfake pornografi. Teknologi ini memungkinkan wajah seseorang ditempelkan ke dalam konten porno tanpa seizinnya. Sungguh mengerikan.
Menurut Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia, situasinya sudah sangat memprihatinkan.
Data UN Women sendiri mengungkap fakta pahit: hampir semua korban deepfake adalah perempuan. Angkanya mencapai 99 persen. Bayangkan!
Di sisi lain, laporan tahun 2024 menunjukkan bahwa 16 hingga 58 persen perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia mengaku pernah mengalami kekerasan seksual atau pelecehan daring. Dwi menegaskan bahwa kekerasan di dunia online ini bisa dengan mudah merembet ke kehidupan nyata. Mulai dari pengendalian paksa, penguntitan, sampai kekerasan fisik.
Ucapnya dengan nada prihatin.
Upaya Nyata Menciptakan Ruang Aman
Sebagai badan PBB yang fokus pada kesetaraan gender, UN Women tak tinggal diam. Mereka berkomitmen menciptakan ruang aman di media sosial agar perempuan bisa bebas berekspresi tanpa dihantui rasa takut.
Artikel Terkait
Anggaran Aceh Tak Dipangkas, Prabowo Beri Lampu Hijau di Tengah Bencana
Medvedev Peringatkan Eropa dengan Video Serangan Rudal Hipersonik ke Ukraina
Waspada! Link Pendaftaran BSU 2026 Ternyata Hoaks, Kemnaker Tegaskan Belum Ada Kebijakan
Jerman Perketat Hukum untuk Hadang Gelombang Deepfake dan Pelecehan Digital