Perkembangan teknologi memang luar biasa, tapi di balik semua kecanggihan itu, ada ancaman yang ikut merayap. Era kecerdasan buatan (AI) ternyata membawa serta gelombang kejahatan cyber yang makin sulit dihindari.
Yang paling mengkhawatirkan? Maraknya kasus pelecehan seksual digital lewat deepfake pornografi. Teknologi ini memungkinkan wajah seseorang ditempelkan ke dalam konten porno tanpa seizinnya. Sungguh mengerikan.
Menurut Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia, situasinya sudah sangat memprihatinkan.
"Deepfake semakin meluas dan dominan menargetkan perempuan. Dengan jumlah total video deepfake online di 2023 adalah 550 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2019, 98 persen dari video deepfake yang beredar online adalah pornografi deepfake, dan 99 persen individu yang ditargetkan adalah perempuan."
Data UN Women sendiri mengungkap fakta pahit: hampir semua korban deepfake adalah perempuan. Angkanya mencapai 99 persen. Bayangkan!
Di sisi lain, laporan tahun 2024 menunjukkan bahwa 16 hingga 58 persen perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia mengaku pernah mengalami kekerasan seksual atau pelecehan daring. Dwi menegaskan bahwa kekerasan di dunia online ini bisa dengan mudah merembet ke kehidupan nyata. Mulai dari pengendalian paksa, penguntitan, sampai kekerasan fisik.
"AI menciptakan bentuk-bentuk kekerasan yang baru sekaligus memperparah kekerasan yang sudah ada,"
Ucapnya dengan nada prihatin.
Upaya Nyata Menciptakan Ruang Aman
Sebagai badan PBB yang fokus pada kesetaraan gender, UN Women tak tinggal diam. Mereka berkomitmen menciptakan ruang aman di media sosial agar perempuan bisa bebas berekspresi tanpa dihantui rasa takut.
Caranya? Melalui program pemberdayaan perempuan dengan literasi AI yang telah menjangkau 439 perempuan. Mereka diajak memahami seluk-beluk AI dan penerapannya di dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari. Harapannya, dengan bekal pengetahuan ini, perempuan bisa lebih waspada terhadap ancaman kekerasan daring.
Korban Deepfake? Lakukan Ini!
Nah, buat kamu yang mungkin mengalami atau mengetahui korban deepfake pornografi, jangan panik. Ada beberapa langkah praktis yang bisa segera dilakukan.
Pertama, laporkan. Segera laporkan konten tersebut melalui fitur pelaporan di platform media sosialnya. Jangan ragu minta bantuan teman-teman untuk melakukan hal yang sama. Semakin banyak yang melaporkan, semakin cepat konten itu ditindak.
Kedua, jangan lupa simpan bukti. Meski sakit melihatnya, screenshoot atau rekam konten tersebut. Ini penting untuk kepentingan hukum nanti.
Ketiga, ceritakan. Jangan dipendam sendiri. Cari orang yang kamu percaya entah keluarga atau sahabat untuk berbagi beban. Kalau sudah merasa kuat, tidak ada salahnya berbagi pengalaman di media sosial untuk meningkatkan kesadaran banyak orang.
Terakhir, cari bantuan profesional. Hubungi hotline KemenPPPA (SAPA 129), Komnas Perempuan (08111129129), atau LBH APIK (0813-8882-2669). Mereka siap mendengarkan dan membantumu.
Artikel Terkait
Jumlah Vila Berizin Melonjak 76,4 Persen, Kemenpar Perketat Pengawasan Usaha Akomodasi
Mendikdasmen Kunjungi Pulau Arar, Pastikan Pendidikan Merata hingga Wilayah Terpencil Papua
Dirjen Bina Keuangan Daerah Terima Penghargaan Digital Innovation Award 2026 atas Transformasi Digital Tata Kelola Pemerintahan
Presiden Prabowo dan Wapres Gibran Kurban Sapi Raksasa di Masjid Istiqlal, Bobot Capai 1,3 Ton