sambung Supratman.
Intinya, ia percaya masyarakat sudah punya nalar dan pemahaman etika yang cukup baik dalam berkomunikasi. Mereka bisa membedakan mana yang masih dalam koridor kritik yang sehat, dan mana yang sudah kelewat batas.
lanjutnya menutup penjelasan.
Pesan yang disampaikan jelas: kritik dipersilakan, tapi penghinaan dalam bentuk visual yang tidak pantas, itu lain cerita. Aturan ada, tapi penerapannya diklaim akan bijak dengan mempertimbangkan konteks dan niatnya.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akhirnya Dibongkar Malam Ini
Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah
Bolsonaro Terjatuh di Balik Jeruji, Dilarikan ke Rumah Sakit