sambung Supratman.
Intinya, ia percaya masyarakat sudah punya nalar dan pemahaman etika yang cukup baik dalam berkomunikasi. Mereka bisa membedakan mana yang masih dalam koridor kritik yang sehat, dan mana yang sudah kelewat batas.
lanjutnya menutup penjelasan.
Pesan yang disampaikan jelas: kritik dipersilakan, tapi penghinaan dalam bentuk visual yang tidak pantas, itu lain cerita. Aturan ada, tapi penerapannya diklaim akan bijak dengan mempertimbangkan konteks dan niatnya.
Artikel Terkait
Motor Terbakar di Tengah Perempatan Maros, Keluarga Selamat
Iran Ajukan Prasyarat Keras Jelang Pembicaraan dengan AS di Islamabad
Bank Dunia: Ekspor Komoditas dan Subsidi BBM Jadi Bantalan Ekonomi Indonesia
Anggota DPR Desak Polri Tindak Tegas Premanisme Usai Kasus Pengeroyokan di Purwakarta