Malaysia menganggap penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan sebagai hal yang terpenting untuk hubungan damai antar negara. Keterlibatan konstruktif, dialog, dan de-eskalasi tetap menjadi jalan paling kredibel menuju hasil yang melindungi warga sipil dan memungkinkan warga Venezuela untuk mengejar aspirasi sah mereka tanpa membahayakan lebih lanjut.
ANWAR IBRAHIM
Di sisi lain, gelombang reaksi ternyata tak hanya datang dari luar. Dari dalam negeri sendiri, tepatnya dari Indonesia, muncul suara yang cukup menohok. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyoroti sikap pemerintah Indonesia yang dinilainya terlalu "standar" dan hati-hati.
Lewat cuitannya, Dino terang-terangan heran. Kenapa pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri RI terasa begitu hambar, bahkan enggan menyebut Amerika Serikat secara langsung. "Sejak kapan kita sungkan/takut mengkritik kawan yg lakukan pelanggaran hukum internasional?" tulisnya dengan nada bertanya, sekaligus menyindir.
Ia juga mempertanyakan keheningan Menteri Luar Negeri Sugiono dalam kasus ini. Sebuah keheningan yang, baginya, kontras dengan suara lantang Anwar Ibrahim dari Malaysia. Kritik Dino ini seperti menyiratkan sebuah pertanyaan besar: di mana posisi diplomasi Indonesia ketika prinsip dasar kedaulatan negara diuji oleh kekuatan besar?
Jadi, situasinya kini berkembang dua lapis. Di level internasional, tekanan terhadap AS mulai menguat lewat suara-suara seperti Anwar. Sementara di domestik kawasan, justru muncul pertanyaan tentang konsistensi dan keberanian menyuarakan prinsip. Semuanya berpusat pada satu peristiwa di Venezuela yang dampak gelombangnya masih terus merambat.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akhirnya Dibongkar Malam Ini
Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah
Bolsonaro Terjatuh di Balik Jeruji, Dilarikan ke Rumah Sakit