Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?

- Kamis, 08 Januari 2026 | 04:06 WIB
Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?

Bayangkan skripsi sebagai panggung terakhir di kampus. Tempat di mana seorang mahasiswa bisa menunjukkan cara berpikirnya, meneliti dengan tajam, dan mungkin menyumbang sudut pandang baru. Itu yang ideal. Tapi coba tanyakan ke kebanyakan mahasiswa sekarang. Jawabannya seringkali jauh dari gambaran itu. Skripsi kini lebih terasa seperti rintangan birokrasi hanya satu hal yang menghalangi gelar. Esensinya sebagai pembentuk pola pikir pun tergerus, berganti menjadi beban mental dan formalitas belaka.

Ini bukan semata-mata soal kemalasan. Lho, kok bisa? Masalahnya lebih sistemik. Pendidikan tinggi kita kerap mengukur kesuksesan dari kecepatan lulus dan IPK sempurna, bukan dari kedalaman gagasan atau dampak penelitian. Pertanyaan-pertanyaan penting seperti, "Apa sih yang sebenarnya kamu temukan?" atau "Apa dampak risetmu?" nyaris tak terdengar. Yang ada justru, "Kapan sidang?" atau yang lebih klasik, "Sudah ACC sama dosen belum?". Akibatnya bisa ditebak: skripsi berubah jadi proyek yang aman-aman saja, minim inovasi, sekadar formalitas yang harus diselesaikan.

Menurut sejumlah saksi, fenomena ini kentara banget di jurusan seperti Ilmu Komunikasi. Padahal, di sinilah mahasiswa seharusnya dilatih mengamati dan mengkritisi dinamika sosial. Kenyataannya? Mereka justru lebih jago menyesuaikan diri dengan birokrasi kampus. Ribetnya aturan format, template kaku, dan prosedur bikin energi habis untuk hal-hal teknis, bukan untuk merumuskan pertanyaan penelitian yang segar. Tak jarang, topik kritis yang menyentuh isu media atau politik malah dipangkas. Alasannya sederhana: dianggap terlalu kontroversial atau jujur saja merepotkan pembimbing.

Di sisi lain, hubungan antara mahasiswa dan dosen sering memperparah keadaan. Kuasa yang tak seimbang di mana nilai dan kelulusan bergantung pada satu pihak mengubah proses bimbingan jadi arena negosiasi kepatuhan. Mahasiswa belajar satu pelajaran penting: jangan sampai merepotkan sistem. Hasilnya, keberanian untuk beda pendapat atau mengajukan kritik pelan-pelan menguap. Pada titik ini, skripsi bukan lagi ukuran kecerdasan, melainkan ujian kesabaran menghadapi birokrasi.

Memang ada yang bilang, skripsi S1 kan nggak dituntut menghasilkan teori baru. Iya, betul. Tapi argumen itu kerap disalahgunakan. Dipakai sebagai pembenaran untuk mengebiri keberanian mahasiswa dari awal. Padahal, kontribusi akademik itu nggak melulu harus monumental. Bisa kok dalam bentuk perspektif baru, kritik terhadap praktik media, atau dokumentasi fenomena sosial yang relevan. Sayangnya, kontribusi sekecil apa pun sering dianggap "ribet" kalau nggak mengikuti template yang sudah ada.


Halaman:

Komentar