Daftarnya masih panjang. Masih ada Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian, dan Thomas Djiwandono di Wakil Menteri Keuangan. Latar belakang pendidikan luar negeri mereka memang mentereng. Tapi pengalaman mengelola birokrasi Indonesia yang ruwet? Nihil.
Sudaryono lebih sering muncul dalam aktivitas politik dan pencitraan. Solusi konkret untuk masalah produktivitas pangan yang anjlok? Itu jarang terdengar.
Thomas Djiwandono mungkin paham teori makroekonomi. Tapi di lapangan, ia sering dicap hanya sebagai "penjaga kepentingan keluarga" di kementerian yang paling vital. Terobosan kebijakan untuk mengatasi anggaran yang membengkak? Sepertinya masih ditunggu.
Lalu, puncak anomali ini mungkin adalah penempatan Letkol Teddy Indra Wijaya sebagai Sekretaris Kabinet. Seorang perwira aktif di jabatan sipil yang super strategis. Ia membawa serta kultur komando yang kaku ke dalam jantung administrasi sipil.
Tugas Seskab seharusnya mengoordinasi sidang kabinet dan memastikan para menteri bekerja sesuai koridor. Tapi dengan kapasitas yang lebih mirip "ajudan", Teddy justru dinilai lebih sibuk mengatur akses fisik menuju Presiden. Bukan pada substansi kebijakan. Akibatnya, koordinasi kabinet jadi transaksional, satu arah dari atas. Ruang debat sehat antar menteri yang lebih senior dan ahli, ikut mati.
Dominasi para Hambalang Boys ini menciptakan fenomena sendiri: "Komunikasi Asal Bapak Senang". Mereka kerap menyajikan narasi untuk publik yang jauh dari realitas pahit di lapangan. Tujuannya satu: menjaga citra sang mentor. Presiden pun akhirnya mendapat masukan yang tidak akurat. Sementara rakyat disuguhi retorika yang tidak nyambung dengan data ekonomi dan sosial yang ada.
Pada akhirnya, pemerintahan bukan partai politik. Bukan pula padepokan pribadi. Mengisi posisi-posisi teknokratis dengan kader yang "nol pengalaman" adalah sebuah perjudian. Dan taruhannya adalah kepentingan rakyat. Jika para Hambalang Boys ini tidak segera menunjukkan lonjakan kapasitas bukan cuma lonjakan kesetiaan maka kabinet ini hanya akan menjadi barisan "prajurit". Disiplin dalam baris-berbaris, tapi buta dalam memetakan arah bangsa.
Artikel Terkait
Indonesia Dukung Upaya Saudi Fasilitasi Dialog Damai di Yaman Selatan
Mengapa Kita Lebih Mudah Berharap Daripada Bersyukur?
Wagub Babel Diperiksa Bareskrim, Ijazah Diklaim Cuma Belum Dilegalisir
Ketika Algoritma Menjadi Hakim Cinta: Red Flag yang Menggerus Relasi Manusia