Ribuan orang memadati jalan desa di Jombang dini hari itu. Mereka berpawai dengan motor, mengikuti iring-iringan sound horeg yang memecah kesunyian subuh. Acara sahur on the road atau SOTR itu langsung viral, terutama karena dihiasi penari-penari dengan gerakan yang dianggap tak pantas untuk suasana Ramadan.
Menurut sejumlah saksi, keramaian itu berlangsung dari sebelum fajar hingga matahari terbit. Video yang beredar di TikTok menunjukkan iringan panjang motor melintasi jalan kampung dan hamparan sawah, diiringi dentum musik keras.
Sekretaris Desa Jatibanjar, Hengki, membenarkan kejadiannya. "Itu terjadi di jalan penghubung antara desa kami dengan Desa Sumbergondang, pada Minggu pagi," ujarnya. Ia dengan tegas menyatakan bahwa acara kontroversial itu sama sekali bukan inisiatif atau izin dari Pemerintah Desa Jatibanjar.
"Semestinya tidak pantas ada seperti itu," lanjut Hengki, suaranya terdapat nada kesal.
"Bulan puasa ada seperti itu segala, ya tidak pantas."
Di sisi lain, Aprelia, pemilik salah satu sound horeg yang ikut meramaikan, punya penjelasan. Menurutnya, lebih dari sepuluh unit sound terlibat. Mereka, kata Aprelia, berkumpul secara spontan.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Apresiasi Pemecatan Oknum Brimob Pelaku Penganiayaan Siswa di Tual
Satu dari Delapan Buron Rutan Way Kanan Berhasil Ditangkap di Hutan
Gubernur Jateng Operasikan Loader di Pantai Batang, Soroti Darurat Sampah 6,36 Juta Ton
KONI NTT Targetkan 37 Emas PON 2028, Anggaran Rp250 Miliar Disiapkan