begitu bunyi pernyataan resmi pemerintah Rusia. Mereka juga memperingatkan bahwa tindakan semena-mena seperti ini bisa jadi preseden buruk, membuka pintu bagi kekacauan dalam hubungan internasional ke depannya.
Semua kecaman ini meledak setelah Presiden AS kala itu, Donald Trump, mengumumkan keberhasilan penangkapan Maduro dalam sebuah serangan besar-besaran. Trump bahkan berancana-ancana bahwa AS akan mengambil alih kendali Venezuela. Pernyataan itu, tentu saja, langsung menyulut kemarahan di banyak ibu kota negara.
Lalu, reaksi internasional pun mengalir deras. Iran, misalnya, ikut mengutuk keras dan menyebut operasi itu sebagai pelecehan terhadap integritas wilayah Venezuela. Beberapa negara tetangga Venezuela di Amerika Latin seperti Meksiko, Kolombia, dan Brasil juga bersuara lantang. Mereka mengecam langkah Washington dan mengingatkan soal risiko kemanusiaan serta instabilitas yang bisa merembet ke seluruh region.
Namun begitu, tidak semua pihak bereaksi dengan nada yang sama kerasnya. Uni Eropa, contohnya, mengambil sikap lebih berhati-hati. Meski selama ini mereka tidak mengakui legitimasi pemerintahan Maduro, blok negara Eropa itu tetap menekankan bahwa solusi apa pun harus tetap berada dalam koridor hukum internasional. Kekuatan militer, bagi mereka, bukanlah jawaban.
Sementara itu, dari markas PBB di New York, Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan yang mendalam. Dia memperingatkan bahwa intervensi militer terhadap negara berdaulat seperti ini berisiko menciptakan preseden berbahaya. Sebuah preseden yang bisa menggerus tatanan global yang sudah rapuh.
Artikel Terkait
Rocky Gerung Soroti Isu Kemanusiaan dan Lingkungan dalam Pidato Megawati di Rakernas PDIP
Timothy Ronald dan Akademi Crypto Dilaporkan Polisi, Diduga Tipu Investor
Menkes Minta Rumah Rusak Tenaga Kesehatan Aceh Segera Diperbaiki
Megawati Resmikan Institut Pancasila di Tengah Kemeriahan HUT PDIP