China dan Rusia Kecam Operasi Militer AS yang Tangkap Maduro

- Senin, 05 Januari 2026 | 05:20 WIB
China dan Rusia Kecam Operasi Militer AS yang Tangkap Maduro

Respons Global atas Operasi AS di Venezuela

Operasi militer Amerika Serikat yang berakhir dengan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, memicu gelombang kecaman keras. Dua kekuatan global, China dan Rusia, berada di garis depan yang menyuarakan protes. Mereka sama-sama menilai langkah Washington ini bukan cuma salah, tapi melanggar kedaulatan sebuah negara dan aturan main internasional yang sudah disepakati.

Dari Beijing, reaksinya cepat dan tegas. Pemerintah China menyatakan diri "sangat terkejut" sekaligus "mengecam keras" penggunaan kekuatan militer terhadap Venezuela. Bagi mereka, menangkap seorang kepala negara seperti ini adalah tindakan sepihak yang brutal.

“Ini bertentangan dengan prinsip dasar hubungan antar bangsa dan tentu saja, Piagam PBB,” begitu kira-kira suara dari Beijing. Mereka bersikukuh bahwa jalan keluar dari krisis Venezuela harus dicari lewat dialog internal, bukan dengan campur tangan apalagi serangan dari luar negeri. Menurut mereka, mengirim tentara hanya akan memicu ketegangan yang lebih parah dan menggoyang stabilitas kawasan Amerika Latin.

Di sisi lain, Moskow tak kalah vokal. Rusia secara terbuka menuntut AS agar segera membebaskan Maduro beserta istrinya. Bagi Kremlin, Maduro tetaplah presiden sah Venezuela, terpilih melalui proses yang mereka anggap legal. Operasi militer AS, dalam pandangan mereka, adalah pelanggaran terang-terangan yang tak bisa ditoleransi.

“Amerika Serikat harus meninjau kembali keputusannya dan menghormati kedaulatan negara lain,”


Halaman:

Komentar