Jadi, santai saja. Tak ada dendam di sini. Tak ada niat menjatuhkan.
Yang ada cuma satu: hak publik untuk bertanya, tanpa harus minta izin dari klub penggemar mana pun.
Sekarang, mari kita lihat efek domino-nya. Biar terasa bahwa ini bukan persoalan satu orang, tapi pola pikir yang berbahaya jika dibiarkan hidup dalam iklim bernegara.
Kalau logika buzzer semacam ini dipelihara "Siapa pun yang mengkritik figur publik pasti bermotif dendam, iri, atau mau menjatuhkan" efeknya tak akan berhenti pada satu nama.
Pertama, ruang kritik akan mati pelan-pelan. Orang akan berpikir seribu kali sebelum angkat bicara. Bukan karena salah, tapi karena takut motifnya diseret-seret ke ranah pribadi. Ujung-ujungnya, yang berani bersuara cuma dua jenis: buzzer bayaran dan para penjilat.
Kedua, kekuasaan kehilangan alarm. Dalam negara yang sehat, kritik itu ibarat alarm kebakaran. Kalau alarm terus dibungkam karena dianggap "mengganggu", apinya tak akan padam yang habis adalah rumah kita sendiri.
Ketiga, figur populer naik kasta jadi simbol yang tak tersentuh. Tak boleh dikritik, tak boleh ditanya, apalagi dianalisis. Sentuh sedikit saja, seruan "kurang ajar!" atau "fitnah!" langsung berhamburan. Padahal, negara ini bukan fandom. Dan jabatan publik bukan sesi meet and greet.
Keempat, logika publik rusak. Generasi muda akan belajar satu hal: yang penting bukan "mana yang benar", tapi "siapa yang populer". Bukan data yang diutamakan, melainkan siapa yang disayang massa. Jika ini terus berlanjut, lambat laun kita bukan lagi memilih kebijakan terbaik, tapi memilih wajah yang paling menarik di layar.
Kelima dan ini yang paling seram negara jadi anti-kritik tapi pro-pencitraan. Semuanya dibikin rapi di permukaan. Semua dikemas ramah dan penuh senyum. Tapi di dalamnya? Tak ada yang berani membongkar, karena takut langsung dicap sebagai pembenci. Pada akhirnya, rakyat cuma jadi penonton pasif. Tepuk tangan saat disuruh, diam saja saat dirugikan.
Makanya, ini penting untuk ditegaskan. Kritik terhadap Raffi Ahmad atau siapa pun bukan soal menjatuhkan pribadi seseorang. Ini tentang menjaga nalar publik agar tidak ambruk bersama logika bernegara kita. Kalau hari ini kritik dibungkam dengan kata "dendam", besok kebijakan dibungkus dengan dalih "niat baik", lusa kesalahan dibela dengan imbauan "jangan ribut". Dan tanpa disadari, kita terbangun di sebuah negara yang rame, populer, viral, tapi sama sekali tidak kebal dari salah arah.
Jadi, masalahnya bukan pada beritanya. Masalahnya ada pada logika pembungkaman yang sedang coba dinormalisasi. Dan kalau kita diam saja, yang jatuh bukan cuma satu orang. Yang tumbang adalah akal sehat kita dalam bernegara.
Artikel Terkait
Dua Pemancing Hilang di Pantai Wediombo, Satu Identitas Masih Misterius
Reza Pahlavi Serukan Perebutan Kota, Gelombang Demonstrasi Iran Kian Menggila
Eggi Sudjana dan Warisan Pengkhianatan dalam Sejarah Politik Indonesia
Lampu Huntara Menyala, Harapan Kembali di Desa Babo