Ledakan mengguncang Caracas sebelum fajar menyingsing. Pada Sabtu (3/1) pagi itu, militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela, dengan ibu kotanya menjadi sasaran utama. Suasana kota yang biasanya tenang berubah jadi mencekam dalam sekejap.
Dari udara, situasinya tak kalah mencekam. Sejak sekitar pukul dua dini hari, warga melaporkan melihat pesawat tempur AS terbang rendah di langit Caracas. Menurut laporan AP, getarannya keras setidaknya tujuh ledakan beruntun terdengar menggema di seluruh kota.
Kerusakan parah terlihat jelas di Pangkalan Udara Militer La Carlota. Kendaraan unit anti-pesawat dan beberapa bus di sekitarnya hancur berantakan. Sementara itu, di Pelabuhan La Guaira, pemandangan tak kalah suram: kontainer-kontainer bergeletakan dan gedung-gedung dilalap si jago merah.
Operasi besar-besaran AS ini ternyata berujung pada aksi penangkapan. Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya berhasil diamankan oleh pasukan Amerika.
Pihak AS punya alasan sendiri untuk tindakan ekstrem ini. Mereka menuduh Maduro menjalankan negara narkoba dan telah memanipulasi pemilu.
Namun begitu, Maduro punya pandangan lain. Sejak menggantikan Hugo Chavez pada 2013 lalu, ia kerap bersikeras bahwa kepentingan AS sebenarnya adalah minyak. Venezuela, seperti diketahui, punya cadangan minyak terbesar di dunia. "Mereka ingin menguasainya," begitu kira-kira sanggahnya selama ini.
Artikel Terkait
BNPB: Ribuan Jiwa Terdampak Banjir dan Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia
PSG Kalahkan Arsenal Lewat Adu Penalti, Pertahankan Gelar Liga Champions
Final Liga Champions 2025/2026: PSG vs Arsenal Berujung Adu Penalti setelah 120 Menit Imbang 1-1
Perempuan Indramayu Korban TPPO Modus Pengantin Pesanan Pulang Setelah Lima Bulan Alami Kekerasan di China