Di Balik Tumpukan Tugas, Rindu yang Tak Bisa Terbang Pulang

- Minggu, 04 Januari 2026 | 07:00 WIB
Di Balik Tumpukan Tugas, Rindu yang Tak Bisa Terbang Pulang

Ini bukan soal tunduk pada romantisme tahun baru. Tapi soal kompromi. Soal memberi jeda. Soal memahami bahwa di balik status mahasiswa, ada anak manusia yang punya keluarga dan kerinduan yang perlu disambangi.

Ketabahan di Balik Layar

Di balik pujian "mandiri" yang sering dilekatkan pada mahasiswa perantau, ada banyak pergulatan yang tak terlihat.

Seperti menahan air mata saat video call agar orang tua tak khawatir. Berhemat ketat sampai-sampai harus pikir seribu kali untuk jajan kopi. Menghadapi tekanan akademik tanpa support system yang langsung bisa dipeluk.

Akhir tahun seperti cermin. Bagi yang bertahan, ini saatnya belajar memeluk diri sendiri lebih erat. Dan itu, percayalah, bukan pencapaian yang remeh.

Makna Pulang yang Lain

Jadi, pulang tak selalu berarti fisik sampai di teras rumah. Kadang, pulang adalah rasa tenang yang ditemukan di tengah kesibukan. Ia bisa berupa kabar rutin ke keluarga. Bisa jadi doa yang dibisikkan diam-diam. Atau sekadar harapan bahwa tahun depan semuanya lebih mudah.

Tapi, saat waktunya benar-benar tiba saat semua tugas beres dan tiket akhirnya di tangan rasanya memang lain. Tak ada yang bisa menandingi detik ketika kaki menapak halaman rumah setelah sekian lama. Semua lelah langsung terbayar lunas.

Sebagai Penutup

Untuk kamu yang tahun ini belum bisa pulang, ingat ini: kerinduanmu itu sah. Perasaanmu valid. Tapi keputusanmu untuk bertahan dan menyelesaikan kewajiban, itu juga mulia.

Kamu tak kurang mencintai rumah. Justru, kamu sedang menyusun batu bata untuk masa depan, pelan-pelan, agar nanti pulangmu bisa untuk selamanya.

Dan untuk keluarga di rumah, semoga ada ruang pengertian: kadang, anak yang tak pulang bukan karena lupa. Tapi karena dia sedang berjuang menjagai mimpi agar tetap menyala, untuk kalian semua.

Akhir tahun bagi perantau memang jarang tentang pesta. Ini lebih tentang kesabaran, kerinduan, dan keyakinan bahwa setiap perjalanan, pada waktunya, akan berakhir di tempat yang paling dirindukan: rumah.


Halaman:

Komentar