Saddam Hussein dan Intelijen Palsu
Lalu ada Saddam Hussein. Presiden Irak ini ditangkap pasukan AS pada Desember 2003, sembilan bulan setelah invasi dimulai. Alasannya waktu itu adalah senjata pemusnah massal yang ternyata tak pernah ditemukan.
Ironisnya, Saddam dulunya juga sekutu AS saat perang melawan Iran di era 80-an. Setelah hubungan retak, berbagai tuduhan dilayangkan, termasuk dukungan pada al-Qaeda. Saddam ditemukan bersembunyi di sebuah lubang dekat Tikrit, diadili, dan akhirnya dieksekusi mati pada 2006.
Kasus Hipokrit Juan Orlando Hernández?
Di tengah hiruk-pikuk ini, kasus Juan Orlando Hernández dari Honduras patut jadi bahan renungan. Bagi banyak pengamat, ini contoh nyata sikap hipokrit Washington.
Hernández ditangpak di rumahnya sendiri tak lama setelah lengser dari kursi presiden, Februari 2022. Ia dituduh korupsi dan terlibat perdagangan narkoba. Diekstradisi ke AS, dihukum 45 tahun penjara.
Tapi plot twist terjadi. Desember 2025 lalu, Presiden Trump memberikan ampunan kepadanya. Hernández pun bebas.
Lepas dari penjara AS, masalahnya belum selesai. Beberapa hari kemudian, jaksa agung Honduras malah mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional untuknya. Kacau sekali situasinya. Mantan presiden yang baru dibebaskan AS, justru dikejar oleh negara asalnya sendiri.
Kisah-kisah ini seperti potret buram intervensi AS. Kini, semua mata tertuju pada Venezuela. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nicolas Maduro? Akankah nasibnya mengikuti jejak Noriega dan Saddam, atau justru berbelok seperti kasus Hernández? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Unhas dan KLHK Jalin Kerja Sama Hadapi Perubahan Iklim
Amnesty International: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Berpola dan Terencana
PSIM Yogyakarta Hadapi PSM Makassar di Stadion Sultan Agung, Susunan Pemain Kedua Tim Diumumkan
Legenda PSM Syamsuddin Umar Khawatirkan Ancaman Degradasi Klub