Suasana di TPU Karet Pasar Baru Barat itu kontras banget. Di sekelilingnya, hiruk-pikuk Tanah Abang gedung-gedung tinggi, lalu lalang kendaraan tapi di dalam, ada keheningan yang pelan-pelan terdesak. Makam seluas hampir 6,9 hektare itu kini dikepung beton dan kaca, dan yang tersisa hanyalah nisan-nisan yang berjejalan rapat. Sudah tidak ada lagi tanah kosong.
Sejak 2017, tempat peristirahatan terakhir ini resmi dinyatakan penuh. Kalau ada warga yang meninggal, satu-satunya opsi cuma makam tumpang. Tidak ada lagi lahan baru.
“Sudah penuh sejak tahun 2017. Sekarang hanya melayani makam tumpang saja,”
kata Ade Rendra, operator TPU, Rabu lalu. Suaranya terdengar biasa saja, seperti mengonfirmasi sebuah fakta yang sudah jadi rutinitas.
Secara administratif, pemakaman Islam ini terbagi lima blok besar dengan puluhan petak. Tapi pembagian itu cuma untuk penataan, bukan pertanda masih ada sisa lahan. Di hari-hari biasa, suasana di sini lengang. Kadang hanya beberapa peziarah yang datang, membawa bunga atau air mawar. Aktivitas justru lebih terlihat dari petugas kebersihan yang menyapu jalan setapak atau memangkas rumput yang tumbuh di sela-sela nisan.
Artikel Terkait
Pengendara Motor Tewas Tabrakan dengan Bus Damri di Sarmi, Warga Sempat Blokir Jalan
Pakar Hukum Tegaskan Perampasan Kendaraan oleh Debt Collector adalah Tindak Pidana
Preman Parkir Liar Ancam Sopir Taksi Online di Pelabuhan Makassar, Pelaku Diamankan
Anggota KKB Buron Tujuh Tahun Terkait Penembakan Eks Kapolda Papua Ditangkap