Pikiran Kita, Peta Mereka: Ketika Algoritma Menggambar Ulang Realitas

- Rabu, 07 Januari 2026 | 04:06 WIB
Pikiran Kita, Peta Mereka: Ketika Algoritma Menggambar Ulang Realitas

Kita semua, rasanya, percaya pada satu mitos yang nyaman: bahwa kita masih bebas berpikir. Tidak ada yang melarang kita bicara, sensor terbuka hampir tak terlihat, dan tak ada todongan senjata yang memaksa kita percaya pada satu hal. Tapi justru di situlah jebakannya. Kekuasaan zaman sekarang nggak lagi main paksa atau bungkam. Ia bekerja dengan cara yang lebih halus: membentuk.

Lihat saja bagaimana algoritma mengatur hidup kita sekarang. Pikiran kita tidak direbut lewat penindasan, tapi diarahkan lewat arsitektur informasi yang kita huni setiap hari. Sistem ini, tanpa henti, memilihkan apa yang pantas kita lihat. Bukan asal pilih, tentu saja. Semuanya berdasarkan kepentingan ekonomi, logika perhatian, dan agenda kekuasaan yang beroperasi dalam senyap. Setiap kali jempol kita menggulir layar, itu adalah keputusan politik kecil. Dan kita hampir tak pernah menyadarinya.

Algoritma sering diklaim sebagai teknologi netral. Katanya, ia cuma mengolah data, tanpa emosi, tanpa bias. Tapi netralitas itu ilusi belaka. Mustahil ada sistem yang benar-benar bebas nilai ketika ia dirancang untuk mengatur perhatian jutaan orang. Data yang dipakai adalah jejak perilaku kita sendiri, dan tujuannya bukan untuk mencerahkan publik, melainkan untuk membuat kita terus terlibat. Dalam logika ini, pikiran manusia bukan lagi subjek yang harus dihormati. Ia cuma sumber daya yang perlu dioptimalkan.

Di titik ini, kekuasaan jadi tanpa wajah. Susah sekali menunjuk satu aktor sebagai biang keladi, atau satu institusi untuk disalahkan. Justru karena itulah ia begitu efektif. Saat pikiran kita dibentuk oleh paparan yang terus diulang, batas antara pendapat pribadi dan hasil rekayasa sistem pun kabur. Kita mengira sedang membangun sikap, padahal seringkali cuma mengiyakan apa yang sudah dipilihkan untuk kita.

Dampaknya terasa nyata di ruang publik. Polarisasi yang kita saksikan nggak selalu lahir dari perbedaan ideologi yang mendasar. Seringkali, ia muncul dari ekosistem informasi yang sengaja dikotak-kotakkan. Algoritma bekerja dengan logika segmentasi: setiap orang dapat dunianya sendiri. Ada yang hidup dalam gelembung kemarahan, yang lain dalam lingkaran ketakutan, atau rasa benar yang absolut. Dialog pun mati. Bukan karena manusia enggan bicara, tapi karena mereka sudah nggak lagi menghuni realitas yang sama.

Akibatnya, demokrasi tetap berjalan sih secara prosedural. Pemilu ada, kebebasan berpendapat di atas kertas tetap terjaga. Tapi kedalaman deliberasinya menguap. Ketika opini publik dibentuk oleh emosi yang dipompa terus-menerus, keputusan politik lahir dari reaksi cepat, bukan pertimbangan rasional yang matang. Pikiran berubah jadi arena kontestasi diam-diam. Sebuah pertarungan yang tak pernah diumumkan sebagai pertarungan.


Halaman:

Komentar