Ade menambahkan, pembersihan dilakukan setiap hari. “Penyapuan dan pengangkutan sampah dilakukan setiap hari. Pembabatan rumput Senin sampai Jumat. Area dibagi menjadi empat zona kerja,” jelasnya.
Namun begitu, tanda-tanda kepadatan itu nyata terpampang. Coba lihat susunan nisannya sangat rapat. Di beberapa titik, ada gundukan makam yang tampak lebih menjulang, sekitar setengah meter lebih tinggi dari yang di sebelahnya. Itulah ciri khas makam tumpang, di mana satu liang lahan bisa dipakai untuk dua, bahkan tiga jenazah.
Sebuah nisan di blok A1, misalnya, mencatat tiga nama dengan tahun wafat yang berbeda jauh: 1994, 2010, dan 2023. Satu kuburan, tiga generasi. Pola seperti ini sekarang makin umum ditemui, sebuah konsekuensi logis dari kota yang terus tumbuh vertikal, sementara tanah untuk yang meninggal tak bisa diperluas.
Pada akhirnya, kondisi TPU Karet ini cuma satu contoh dari persoalan yang lebih besar. Ia seperti potret mini krisis lahan makam di Jakarta. Ketika tanah sudah penuh, pilihannya sangat terbatas. Makam tumpang jadi solusi yang nggak ideal, tapi mau bagaimana lagi? Pertanyaannya menggelayut: kalau suatu saat nanti, tumpang-tindih pun sudah mencapai batasnya, lalu ke mana warga ibu kota akan dibawa?
Artikel Terkait
Retret Kabinet Berakhir, Prabowo Apresiasi Inisiatif Menteri dan Sinyalkan Optimisme 2026
Pikiran Kita, Peta Mereka: Ketika Algoritma Menggambar Ulang Realitas
Pemerintah Segera Cairkan Kompensasi untuk Korban Banjir Sumatera
Mengapa Kita Merasa Bersalah Saat Hanya Ingin Berhenti Sejenak?