Laporan di lapangan menyebutkan, sejak pukul dua pagi, warga sudah melihat pesawat tempur AS terbang rendah di langit ibu kota. Situasinya memang sedang memanas. Aktivitas militer Amerika di kawasan itu belakangan makin menjadi, fokusnya menargetkan kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba di perairan Karibia dan Pasifik timur.
Menariknya, cuma dua hari sebelum serangan, Presiden Nicolas Maduro sempat menyuarakan sikap yang berbeda. Pada Kamis (1/1), dia menyatakan kesediaan Venezuela untuk bernegosiasi dengan AS. Ini terjadi setelah tekanan militer bertubi-tubi terkait tuduhan perdagangan narkoba yang dialamatkan kepada rezimnya.
Jadi, di satu sisi ada pintu dialog yang dikatakan terbuka, tapi di sisi lain, ledakan-ledakan justru yang lebih dulu berbicara. Situasinya rumit, dan ketegangan di udara terasa begitu nyata.
Artikel Terkait
Pemerintah Segera Cairkan Kompensasi untuk Korban Banjir Sumatera
Mengapa Kita Merasa Bersalah Saat Hanya Ingin Berhenti Sejenak?
Prabowo Bentuk Satgas Khusus, Fokuskan Rehabilitasi Pascabencana Sumatera
Prasetyo Hadi: Kritik Biasa, Tapi Teror Bukan Cara Dewasa