Dan sejarah sering membuktikan, baru percaya kalau sudah ada korban jiwa.
Logika Daus, secara tak langsung, seperti berkata: "Lo mati dulu, baru gue percaya."
Itu kejam.
Belum lagi bahaya keempat: retaknya solidaritas sesama aktivis.
Ini efek domino yang pelan tapi pasti.
Ada kawan diteror, yang lain malah mulai ragu: "Beneran nggak sih?" atau "Jangan-jangan emang diatur?"
Perlahan, ikatan itu retak. Padahal kekuatan gerakan ada di kebersamaan. Begitu saling curiga masuk, perjuangan melemah dengan sendirinya. Dan Daus, sadar atau tidak, jadi alat pemecahnya.
Yang kelima, fokus publik dialihkan.
Harusnya kita ributin: Siapa dalangnya? Motifnya apa? Siapa yang diuntungkan?
Eh, malah sibuk berdebat: "Ini asli atau settingan?" "Drama atau nggak?" "Korban cari simpati ya?"
Pelaku? Mereka bisa santai nontin sambil ngopi. Publik sibuk menyerang korban, bukannya mengejar pelaku.
Gue mau lurusin satu hal.
Masalahnya bukan pada keraguan Daus. Orang boleh saja ragu. Masalahnya adalah cara dan dampak ucapannya. Kalau kamu bicara soal teror dengan enteng, sinis, dan tanpa empati, itu bukan sikap netral. Itu berbahaya.
Karena dalam catatan manapun, kekerasan selalu dimulai dari satu titik: saat korban dianggap lebay dan tidak layak didengar.
Ini penting dicamkan.
Daus bukan tipe yang turun tangan langsung. Dia bukan algojo. Dia orang yang membuat algojo merasa aman. Bukan yang memukul, tapi yang membisikkan, "Ah, itu bohong."
Dan kalau kamu aktivis, sadarlah: musuh tidak selalu datang bawa pentungan. Kadang, mereka datang dengan kalimat santai yang membuat semua orang jadi cuek.
Teror jarang datang besar-besaran di awal. Dia menguji dulu: lempar ancaman, lakukan teror kecil, sebarkan ketakutan. Kalau publik masih peduli dan bersuara, dia mundur. Kalau publik malah ketawa dan bilang "drama", dia akan lanjutkan.
Orang seperti Daus, dengan omongan remehnya, ikut membantu proses pengujian itu.
Makanya dia berbahaya. Bukan karena kuat, tapi karena dia membuat kejahatan terlihat biasa saja.
Dan di negara manapun, ketika kejahatan sudah dianggap biasa, para korban tinggal menunggu giliran.
Artikel Terkait
Saksi Terakhir yang Bertemu Afiah: Ia Tampak Biasa Saja
Di Tengah Gemuruh Rawa Belong, Bambang Setia Meracik Bunga di Pinggir Jalan
Tragedi Warakas: Teriakan Histeris Pecah di Pagi Buta, Tiga Nyawa Melayang
Perpustakaan di Sekolah Rakyat: Mengubah Cara Pikir untuk Putuskan Rantai Kemiskinan