Anak-anak itu akan mati. Mohamed Bzeek tahu itu. Sudah lebih dari dua dekade ia menjadi ayah asuh, dan dalam kurun waktu itu, ia justru memilih untuk menerima mereka anak-anak yang kondisinya paling parah, yang paling rentan, di tengah sistem perawatan anak asuh Los Angeles County yang begitu luas.
Sudah sekitar sepuluh anak yang ia kuburkan. Beberapa di antaranya menghembuskan napas terakhir tepat di pelukannya.
Sekarang, hari-harinya dihabiskan untuk merawat seorang gadis kecil berusia enam tahun. Gadis itu terbaring di tempat tidur, dikalahkan oleh cacat otak langka yang menghancurkan. Ia buta. Ia tuli. Kejang datang hampir setiap hari. Lengan dan kakinya lumpuh total. Bzeek, seorang Muslim taat kelahiran Libya yang tinggal di Azusa, hanya punya satu keinginan sederhana: agar gadis ini tahu, bahwa dalam hidupnya yang singkat dan penuh derita ini, ia tidak sendirian.
“Saya tahu dia tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat,” ujarnya, suaranya lirih namun tegas.
“Tapi saya selalu berbicara padanya. Saya gendong, saya ajak main, saya sentuh. … Dia punya perasaan. Dia punya jiwa. Dia manusia.”
Menurut Rosella Yousef, asisten administrator regional untuk unit khusus di Departemen Layanan Anak dan Keluarga, dari 35.000 anak yang diawasi, ada sekitar 600 anak dengan kebutuhan medis paling kritis. Mereka masuk dalam program Layanan Manajemen Kasus Medis. Dan faktanya, kata Yousef, kebutuhan akan orang tua asuh untuk anak-anak seperti ini sangatlah mendesak.
Sayangnya, di wilayah itu, hanya ada satu nama yang muncul.
Hanya Mohamed Bzeek.
“Kalau ada telepon masuk yang bilang, ‘Ada anak butuh tempat tinggal untuk perawatan paliatif,’ cuma satu nama yang langsung terpikir,” jelas Melissa Testerman, seorang koordinator penerimaan di DCFS yang tugasnya mencarikan rumah untuk anak-anak sakit parah.
“Dia satu-satunya yang bersedia menerima anak yang… mungkin besok sudah tidak ada.”
Biasanya, anak dengan kondisi sangat kompleks akan ditempatkan di fasilitas medis atau dengan perawat yang memang memilih jalur ini. Namun begitu, Yousef menegaskan bahwa Bzeek adalah satu-satunya orang tua asuh di wilayahnya yang diketahui mau menerima tanggung jawab seberat itu. Meski tahu pria tunggal ini sudah kewalahan dengan gadis kecil yang butuh perhatian 24 jam, Yousef tetap mendekatinya di pesta Natal departemen Desember lalu. Ia bertanya, apakah Bzeek mungkin bisa menerima anak sakit lainnya.
Artikel Terkait
Sore di Pantai: Saat Ombak Mengajarkan Arti Berhenti
Perang Petasan Gegerkan Perayaan Tahun Baru di Gowa
Malam Pergantian Tahun, Mamdani Resmi Pimpin New York dari Stasiun Bawah Tanah
Gempa Magnitudo 2,4 Guncang Kuta Selatan di Pagi Tahun Baru 2026