Di sisi lain, ketergantungan pada tren juga berisiko.
Konsep ayam ala Saudi sempat jadi daya tarik utama. Tapi tren punya masa hidup. Kalau nggak ada inovasi entah di menu, pengalaman beli, atau positioning pelanggan perlahan akan pergi. Mereka pindah diam-diam, tanpa bilang-bilang.
Yang sering terlupa: operasional itu kejam.
Marketing yang jago bisa mendatangkan orang berbondong-bondong. Tapi, operasional yang buruk bisa membunuh bisnis secara perlahan. Itu fakta yang pahit.
Nah, di tengah kabar tutupnya Almaz, ada hal menarik. Banyak UMKM skala kecil justru bisa bertahan lebih lama. Kenapa? Bukan karena branding mereka wah, tapi karena disiplin mengelola cashflow. Mereka hidup dari hari ke hari dengan perhitungan yang ketat.
Menurut kamu, faktor mana yang paling masuk akal?
Pada akhirnya, bisnis itu bukan lomba lari cepat. Lebih mirip marathon. Yang bertahan bukan yang paling cepat start-nya, tapi yang paling kuat menempuh jarak.
Artikel Terkait
Pemprov Sulsel Tegaskan Anggaran Sewa Helikopter Rp 2 Miliar Belum Direalisasi
Arus Balik Lebaran 2026 Resmi Berakhir, 3,38 Juta Kendaraan Masuk Jabotabek
Kebocoran Diduga Picu Ledakan dan Kebakaran di SPBE Cimuning Bekasi
Aturan Larangan Ponsel di Sekolah Makassar Picu Pro-Kontra di Kalangan Siswa