Nah, ini yang menarik. Dalam sabda yang sama, Nabi menyebut soal segumpal daging dalam tubuh, yaitu hati. Kalau hati ini baik, maka baiklah seluruh tubuh. Kalau rusak, rusak pulalah semuanya.
Kaitannya dengan pembahasan kita? Sangat erat. Apa yang kita makan halal, haram, atau syubhat langsung mempengaruhi kondisi hati. Hati itu pusat kendali. Ia yang menggerakkan jasmani dan mengarahkan kehendak jiwa. Baik buruknya sangat tergantung pada asupan dan perbuatan kita.
Jadi, logikanya sederhana. Konsumsi yang halal, bikin hati bersih. Dari hati yang bersih, lahirlah amal dan perilaku yang baik. Sebaliknya, kalau yang masuk ke tubuh adalah yang haram, jangan harap hati akan tetap bening. Dari sana, yang muncul adalah tindakan-tindakan buruk.
Syaikh Sa'id Ramadhan al-Buthi pernah menulis soal ini. Kira-kira begini penjelasannya: tubuh yang tumbuh dari harta haram, biasanya menampung jiwa yang suka menyimpang dan melanggar batas. Sekalipun dari luar kelihatan taat, di dalam batinnya bisa jadi mengendap penyakit-penyakit berbahaya.
Pada akhirnya, perhatian kita pada ketentuan halal dan haram ini memang fundamental. Ini bukan ritual kosong. Ini urusan hati. Makanan, harta, aktivitas yang halal itu penopang. Ia yang akan menopang ibadah dan akhlak kita.
Sementara yang haram? Meski kadang hasilnya tampak mentereng, ia punya potensi merusak dari dalam. Perlahan-lahan, bisa menyeret pada penyimpangan.
Makanya, menjaga diri dari yang haram dan syubhat itu sama dengan menjaga agama dan harga diri. Ini juga jalan untuk dapat kehidupan yang penuh berkah dan ridha-Nya. Wallāhu a’lam.
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tiba di Moskow, Segera Temui Putin untuk Perkuat Kerja Sama Bilateral
Mahasiswa Calon Pastor Hilang Tenggelam di Danau Toba, Pencarian Berlanjut
Pertamina Menanggung Beban Rp60 Triliun per Bulan Akibat Harga BBM yang Ditahan
Islah Bahrawi Kritik Kebijakan Prabowo yang Dinilai Jauh dari Janji dalam Buku Paradoks Indonesia