Kabel Bergelantungan di Trotoar Saharjo, Ancaman Nyata bagi Pejalan Kaki

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 11:54 WIB
Kabel Bergelantungan di Trotoar Saharjo, Ancaman Nyata bagi Pejalan Kaki

Jalan Dr. Saharjo di Setiabudi, Jakarta Selatan, punya trotoar yang bikin pejalan kaki was-was. Masalahnya bukan cuma soal lebar atau keramaian. Ada sesuatu yang benar-benar menghalangi: gulungan kabel hitam yang menjuntai begitu rendah, melintang seenaknya di atas jalur orang berjalan kaki.

Sabtu pagi lalu, suasana di sana bisa disaksikan langsung. Sepanjang trotoar, kabel-kabel itu menggantung tak karuan. Cuma beberapa langkah dari halte non-BRT Masjid Jami Baiturrahman, ada satu bagian yang turun sangat dalam setinggi pinggang orang dewasa. Untuk lewat, mau tak mau harus menunduk. Atau, memilih geser ke pinggir trotoar yang nyaris menyentuh badan jalan karena terhalang tiang. Bahkan sebuah truk yang mau parkir di depan minimarket sempat kesulitan, tersangkut kabel yang terlalu rendah itu.

Kekacauannya makin jelas kalau diperhatikan lebih dekat. Kabel-kabel itu tak cuma semrawut, tapi juga terbuka. Lapisan pelindungnya mengelupas, memperlihatkan serat-serat fiber optik yang mencuat keluar. Beberapa tiang penyangganya miring. Ada yang kecil dan bengkok, seolah tak kuat lagi menahan beban yang terus bertambah.

Rizal, seorang tukang parkir berusia 55 tahun yang sehari-harinya berjaga di kawasan itu, mengaku sudah terbiasa dengan pemandangan ini.

“Yang kabel-kabel ya sudah didiamkan saja ini, enggak ada reaksinya apa untuk benerin. Kabel mah sudah lama, sebelum ini trotoar dibangun ini, yang saluran,” katanya.

Menurutnya, trotoar di sana sebenarnya baru saja selesai dibangun sekitar dua minggu lalu. Tapi kabel-kabel semrawut itu sudah ada jauh sebelumnya. Aktivitas pejalan kaki di situ cukup ramai, jadi masalah ini makin terasa mengganggu.

Bagi Rizal, ini bukan cuma soal keamanan, tapi juga merusak pemandangan.

“Wah enggak bagus, jelek, jadi berantakan. Lihat saja itu tiang listriknya pada miring-miring kan? Oh, bukan bahaya lagi itu kabel yang di kantor BRI itu, depan kantor BRI sampai ke bawah,” tuturnya. “Apa pantes gitu loh. Ya harus dibenerin lah. Kalau nggak dibenerin, lihat saja begini. Nanti kena orang jalan kan.”

Putus Ditabrak Truk, Cuma Dililit Rafia

Yang lebih parah lagi, kabel-kabel itu bukan cuma menggantung. Pernah juga putus. Basuki (60), warga sekitar, masih ingat betul kejadiannya.

“Wah, parah, jelek. Kayak kemarin saja kena truk tuh, putus noh. Kemarin belum lama putus. Tuh, yang pas di trotoar itu kan dililitin tuh. Kemarin sama truk, belum lama, ada seminggu yang lalu. Putus, karena kesangkut sama truk. Jadi putus. Terus enggak lama sama Busway juga,” jelas Basuki.

Kabel yang terlalu rendah memang rawan tersangkut kendaraan tinggi seperti truk. Risikonya makin besar kalau hujan turun. “Ya kalau pas waktu putus itu kemarin hujan itu. Pas putusnya hujan, pas lagi hujan,” imbuhnya.

Yuda (34), warga lain, punya pendapat serupa. Baginya, kondisi ini membahayakan dua pihak sekaligus.

“Iya semakin lama nih semakin numpuk. Ditambah lagi dia (kabel) makin ke bawah dia, turun. Bahaya kan buat kalangan orang yang jalan kaki. Ini kan jalur masuk mobil juga,” kata Yuda.

Kabel yang terus ditambah, posisinya makin turun saja. Yang bikin resah, sampai sekarang belum ada tindakan nyata dari pihak berwenang. “Belum pernah ada yang berbicara ke kita-kita orang gitu,” keluh Yuda.

Basuki menambahkan cerita tentang solusi seadanya saat kabel putus. “Kayak kemarin saja ditali-taliin tuh pakai rafia,” ujarnya.

Lebih Dari Sekadar Masalah Estetika

Di balik tampilannya yang berantakan, ancaman sesungguhnya adalah keselamatan. Terutama saat musim hujan dan petir.

“Takutnya kalau kabel listrik, kesetrum orang kan bahaya, nyawa,” kata Basuki dengan nada khawatir.

Yuda menimpali, “Orang-orang jalan kan kita nggak pernah tahu kan. Ada yang kebuka takutnya ada arus kan. Membahayakan sih harus ada solusi harusnya.”

Harapan warga sebenarnya sederhana: penataan menyeluruh. Bukan tambal sulam atau sekadar mengikat pakai rafia.

“Ya harapannya sih, lebih dibagusin lah. Kalau emang bisa ditanam ya ditanamlah, biar nggak semrawut gitu loh. Kan kalau begini kan kelihatannya juga nggak enak kan, mengganggu orang-orang yang jalan, warga-warga juga takutnya anak kecil, ya kan nggak tahu kan lagi musim hujan kayak gini kan bahaya. Iya nggak sih?” tutur Yuda.

Basuki menutup percakapan dengan kekhawatiran yang paling mendasar, mengingat kejadian putusnya kabel.

“Pas itu putus kabel, kena orang pakai motor. Kalau orang naik kenceng gitu ya, nggak macet, kenceng gitu, apa kagak mati tuh orang,” pungkasnya.

Di trotoar Jalan Dr. Saharjo, ancamannya nyata dan menggantung. Literal.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar