Angkanya sulit dibayangkan. Lebih dari 18.000. Yusuf Abu Hattab, seorang pria Palestina berusia 65 tahun, menyebut setiap satu dari mereka sebagai syuhada. "Dari tanggal 15 Oktober 2023 hingga hari ini," katanya dengan suara yang berat, "saya telah menguburkan lebih dari 18.000 syuhada."
Kalimat itu ia ucapkan bukan sebagai statistik, tapi sebagai kesaksian. Yusuf adalah seorang penggali kubur. Tugasnya yang kelam itu kini berlangsung hampir tanpa henti di Jalur Gaza, di tengah apa yang ia dan banyak pihak sebut sebagai genosida oleh Israel.
Setiap hari, Yusuf menghabiskan berjam-jam di kuburan. Seringkali, itu adalah kuburan massal. Kenapa? Sistem pemakaman biasa sudah ambruk total. Hancur lebur oleh kampanye pengeboman besar-besaran yang dilakukan pasukan pendudukan. Ritual penghormatan terakhir pun terpaksa dilakukan secara darurat, beramai-ramai, di liang-liang yang digali dalam keadaan terburu-buru.
Artikel Terkait
Vinicius dan Camavinga Santai Berbincang Usai Prancis Kalahkan Brasil
Macet Parah Landa Tanjung Bunga Imbas Pensi Smansa 2026 yang Dihadiri Ribuan Penonton
Timnas Indonesia Hancurkan Saint Kitts dan Nevis 4-0, Lolos ke Final FIFA Series 2026
Gubernur Sulsel Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Investasi dengan Pejabat AS