Bogor – Menjelang akhir tahun, suasana perayaan kerap membaur di tengah masyarakat. Namun, pimpinan Majelis Al Ihya Bogor, KH Chaerul Saleh, mengingatkan sesuatu yang ia anggap penting. Umat Islam, katanya, sebaiknya tidak ikut-ikutan dalam perayaan agama lain.
“Setiap bulan Desember biasanya suka dibesar-besarkan masalah ini,” ujar Kiai Chaerul dalam sebuah kajian di Majelis Al Ihya, Ahad lalu.
Ia melanjutkan, “Alhasil, ada saja orang-orang Islam yang kemudian ikut-ikutan.”
Menurutnya, esensi toleransi adalah saling menghormati dengan tetap berpegang pada prinsip masing-masing. Namun begitu, ada batas yang jelas. “Kita toleransi hanya dalam batas muamalah. Dalam akidah, tidak boleh,” tegasnya. Soal keyakinan iman, kata dia, tidak boleh dicampuradukkan begitu saja.
Kiai Chaerul kemudian memberi peringatan agar toleransi tidak disalahartikan. Jangan sampai, karena alasan menghormati, kita ikut-ikutan menyamakan atau menerima keyakinan agama lain. Ia khususnya menyoroti teori pluralisme yang menganggap semua agama sama.
“Hati-hati dengan itu,” jelasnya. “Sebagai Muslim, kita punya prinsip bahwa hanya Islam yang diridhai Allah.”
Lantas, bagaimana sikap yang tepat?
“Kita sudah biasa bertoleransi dalam muamalah, dalam urusan sosial sehari-hari,” tambah Kiai Chaerul. “Akan tetapi, dalam soal akidah, kita tidak boleh ikut-ikutan. Silahkan mereka merayakan agamanya dengan tenang. Prinsipnya, jangan sampai saling mengganggu.”
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa umat Islam telah memiliki pedoman jelas. Prinsip “lakum dinukum waliadin” – untukmu agamamu, untukku agamaku – menjadi pegangan.
“Itulah prinsip yang diajarkan Rasulullah dalam bersikap kepada pemeluk agama lain,” tandasnya menutup penjelasan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Titip Pesan ke Jemaah Haji: Semoga Pulang Jadi Haji Mabrur
Polisi Bekuk Suami di Mojokerto yang Aniaya Istri dan Mertua hingga Tewas, Pelaku Ditangkap di Surabaya
Anies Baswedan: Guru yang Beri Inspirasi dan Nilai Tak Tergantikan oleh AI
Pemkot Brebes Ancam Pecat ASN yang Bolos 12 Hari Tanpa Keterangan