Lalu, bagaimana dengan rencana pembongkaran yang ramai dibicarakan? Edo mencoba meluruskan. Katanya, yang akan dibongkar adalah segmen 2, sementara para pedagang berkumpul di segmen 1. Jadi, dampaknya tidak langsung.
“Di segmen 2 nggak ada aktivitas usaha sama sekali,” tegasnya.
Ia juga mengakui, sejak dulu koneksi antara dua segmen itu nyaris tidak ada. Jaraknya sekitar 300 meter, dan pengunjung segmen 2 biasanya lebih memilih belanja di toko konvensional di bawahnya. “Jadi ya agak males jalan ke sana. Koneksinya memang nggak ada.”
Namun, kekhawatiran tetap ada. Edo berharap pemerintah merangkul para pedagang yang merasa ‘terkatung-katung’. “Dulu kami disuruh pindah ke atas, difasilitasi. Sekarang kami di atas, kondisinya begini,” keluhnya.
Jika suatu saat segmen 1 juga akan dibongkar, ia meminta ada dialog. “Kami kan juga cari nafkah. Harus ada solusi yang win-win, kita duduk bersama.”
Rencana pembongkaran ini sendiri berawal dari usulan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Awalnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menolak. Tapi belakangan, sikapnya berubah.
Dalam sebuah video, Kang Dedi bertanya, “Sekarang Teras Cihampelas mau gimana, Bapak?”
“Bongkar,” jawab Farhan singkat.
Gubernur lalu menambahkan alasannya. “Kita harus menghargai masa lalu. Tapi menghargai tidak harus mempertahankan sesuatu yang justru memberatkan masa depan,” ujar Dedi Mulyadi.
Jadi, nasib skywalk ikonik itu tampaknya sudah diputuskan. Tinggal menunggu waktu.
Artikel Terkait
Hoaks Makan Bergizi, Siswi Kudus Meninggal karena Kanker
Laporan ke KSP: Pengembalian Saham BJBR di Kasus Jiwasraya Diduga Hilangkan Aset Negara
PPATK Soroti Penurunan Drastis Judi Online, Prabowo Disebut Berperan Penting
Pertahanan Lingkungan Berujung Bui: Kisah Pahit Warga Adat Melawan Tambang