Di sisi lain, dia juga menyinggung soal motif di balik isu "sandera" itu. Katanya, banyak elit politik sengaja memainkan isu itu untuk membangun simpati. Seolah-olah Prabowo itu korban, terjebak dalam bayang-bayang kekuasaan Jokowi yang masih kuat. Padahal, relasi mereka jauh lebih dalam dan strategis dari yang dibayangkan.
Ucapannya ini makin menguatkan anggapan bahwa pemerintahan Prabowo akan melanjutkan saja pola yang sudah dibangun. Gaya kepemimpinan, model pengambilan keputusan, semuanya kemungkinan besar tak jauh beda dengan apa yang dijalankan Jokowi selama sepuluh tahun terakhir. Intinya, pergantian presiden belum tentu berarti pergantian arah angin.
Reaksi publik pun beragam. Ada yang bilang pernyataan Radjasa ini berani, membongkar mitos politik yang selama ini dijual bebas. Tapi tak sedikit yang justru melihatnya sebagai alarm. Jangan-jangan, perubahan yang dijanjikan selama kampanye cuma perubahan kosmetik belaka. Hiasan luar saja.
Sampai detik ini, belum ada tanggapan resmi dari Istana atau lingkaran dalam Prabowo soal pernyataan sang mantan intel ini. Tapi yang jelas, perdebatan tentang siapa yang sesungguhnya mengendalikan kemudi kekuasaan nasional kembali memanas. Ruang publik pun kembali riuh.
Artikel Terkait
PSM Makassar Dapat Sanksi FIFA Kedua, Suporter Desak Perombakan Manajemen
Prabowo Soroti Bunga Rentenir 1% Sehari, Targetkan Kredit Koperasi 6% Setahun
Kapal Wisatawan Karam di Batubara, 64 Penumpang Selamat
Operasi Ketupat Polres Bone Merambah Destinasi Wisata Libur Lebaran