Trump Ancam Iran dengan Konsekuensi Berat Jika Lanjutkan Program Nuklir

- Kamis, 05 Februari 2026 | 07:35 WIB
Trump Ancam Iran dengan Konsekuensi Berat Jika Lanjutkan Program Nuklir

MURIANETWORK.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait aktivitas nuklirnya. Dalam pernyataan yang disampaikan kepada NBC, Kamis (5/2/2026), Trump menegaskan bahwa setiap upaya Teheran untuk mengaktifkan kembali atau memperluas program nuklir akan berakibat serius. Ancaman ini muncul di tengah laporan pembatalan putaran perundingan baru antara kedua negara, meski Trump sendiri menyatakan bahwa jalur diplomasi masih terbuka.

Peringatan Keras dan Ancaman Sanksi

Trump secara eksplisit menyebut bahwa pihaknya mengetahui rencana Iran untuk memulai aktivitas nuklir di lokasi baru. Pernyataan ini disampaikan tidak lama setelah serangan militer AS pada Juni 2025 yang menyasar tiga fasilitas nuklir Iran di Isfahan, Natanz, dan Fordow. Presiden AS itu menegaskan bahwa konsekuensi dari pelanggaran tersebut akan sangat berat bagi Iran.

"Mereka sedang mempertimbangkan untuk memulai situs (nuklir) baru di bagian lain negara itu. Kami mengetahui itu," tutur Trump.

Dia melanjutkan dengan nada tegas, "Jika Anda melanjutkannya, kami akan melakukan hal-hal buruk kepada kalian."

Dinamika Diplomasi yang Bergejolak

Di balik retorika ancaman, Trump mengklaim bahwa komunikasi dengan Iran masih berjalan. Pernyataan ini sekaligus menepis kabar yang beredar mengenai pembatalan pertemuan tingkat tinggi yang dijadwalkan pada Jumat (6/2/2026). Menurutnya, negosiasi antara kedua negara masih berlangsung, meski dalam format dan intensitas yang tidak dijelaskan secara rinci.

"Anda tahu, mereka sedang bernegosiasi dengan kami," ujarnya menegaskan.

Trump juga menyiratkan tekanan kepada pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan menyatakan bahwa sang pemimpin seharusnya merasa khawatir jika proses perundingan sampai mengalami kegagalan.

Manuver Diplomatik di Balik Layar

Gelombang pernyataan panas dari Washington ini terjadi bersamaan dengan manuver diplomatik intensif di belakang layar. Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, bersama penasihat kepresidenan Jared Kushner, dilaporkan telah berkunjung ke Qatar pada Kamis untuk bertemu dengan Perdana Menteri setempat, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Pertemuan tersebut dikonfirmasi membahas perkembangan terbaru seputar Iran.

Namun, rencana perjalanan lanjutan kedua diplomat AS ke Turki yang disebut-sebut sebagai lokasi pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi ternyata dibatalkan. Witkoff dan Kushner memutuskan untuk kembali ke Amerika Serikat. Meski begitu, sumber menyebutkan keduanya tetap siaga dan siap untuk kembali ke meja perundingan kapan pun, dengan syarat Iran bersedia kembali ke format negosiasi awal yang disepakati.

Laporan dari sejumlah outlet berita mengindikasikan bahwa pembatalan pertemuan Jumat itu dipicu oleh penolakan Washington terhadap permintaan Teheran untuk mengubah lokasi pertemuan. Detail lebih lanjut mengenai perubahan tempat dan alasan penolakan AS masih belum sepenuhnya jelas, namun hal ini menggarisbawahi kerapuhan dan kompleksitas hubungan antara kedua negara yang telah lama memanas.

Komentar